SWAMI dan kritik sosial

Kritik Sosial dalam Empat Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I

Tugas mata kuliah Seminar dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya
Semester Ganjil 2008/2009

Oleh:

Agnes Setyowati H.
Dhita Hapsarani
Irzanti S.
Muhammad Mulyadi
R. Suryanto
Satrio Arismunandar

Program S3 – Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Indonesia
Desember 2008

I. Latar Belakang

Kesenian, khususnya seni musik, merupakan bagian dari kebudayaan. Melalui musik, manusia mengekspresikan perasaan, harapan, aspirasi, dan cita-cita, yang me-representasikan pandangan hidup dan semangat zamannya. Oleh karena itu, melalui kesenian, kita juga bisa menangkap ide-ide dan semangat yang mewarnai pergulatan zaman bersangkutan.
Indonesia sendiri adalah suatu negeri yang kaya dengan berbagai karya seni, khususnya seni musik, yang mewakili pandangan hidup dan semangat zamannya. Salah satu era yang penting dalam perjalanan bangsa ini adalah era Orde Baru yang dimulai dengan naiknya Jenderal Soeharto ke tampuk pimpinan pemerintahan pada penghujung 1960-an sampai berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto pada penghujung 1990-an.
Salah satu grup musik yang sempat mewarnai era Orde Baru adalah Swami, dengan ikonnya Iwan Fals. Mereka telah menelurkan sejumlah album dan salah satu yang menonjol adalah album Swami I. Lirik-lirik lagu dalam album Swami I ini me-wakili pandangan hidup mereka, sekaligus mengekspresikan semangat zamannya. Untuk memahami lirik-lirik lagu yang ditampilkan dalam album Swami I, kita perlu meninjau konteks kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia pada era tersebut. Read More…

Industri Musik Indonesia dan Sumber Daya Budaya

Industri Musik Indonesia dan Sumber Daya Budaya
Oleh: Lucky Muhammad Mulyadi

Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, industri musik Indonesia sebenarnya termasuk yang beruntung. Keberuntungan Indonesia terletak pada akar budaya yang telah ditanamkan sejak orde lama.
Peran Soekarno yang dicemooh sebagai pembelengu kebebasan dalam ekspresi seni pasca keruntuhannya, saat ini justru harus dikaji sebagai orang yang berjasa menggali dan mempertahankan kebudayaan Indonesia dari gempuran budaya asing. Tanpa kebijakannya tersebut, rasanya sulit untuk mengatakan bahwa industri musik Indonesia akan ada pecinta setianya. Meskipun ada fakto-faktor lainnya seperti musisi-musisi Indonesia yang memanfaatkan momentum kebijakan tersebut dengan menciptakan berbagai musik dan lagu yang selaras dengan kebijakan Soekarno. Read More…

Merry Andani

Penyanyi disco dangdut yang namanya meroket bersama Anis Marcela, Nini Karlina dan Jefry Bule. Album disco dangdut Dinding Pemisah dari Merry Andany pada awal tahun 1990-an 1terjual sebanyak 500.000. Hal itu menandakan bahwa corak disco dangdut saat itu sangat fenomenal bagi masyarakat Indonesia. Selain sukses di album rekaman, artis-artis yang membawakan disco dangdut juga sukses dalam panggung-panggung pertunjukkan.
Sebelum menekuni dangdut penyanyi asal kawasan Ciateul bandung ini juga pernah terjun dalam musik pop dengan nama Merry Meriam.

Jelly Tobing

Jelly Tobing, sebagai drummer jelly Tobing telah malang melintang dalam berbagai panggung pertunjukan musik di Indonesia. Awal karir dimulai dengan menjadi drummer The Minstreel di Medan. Kemudian pindah ke Jakarta dan sempat bergabung bersama CC Blues.
Peranan Deddy Dores mungkin dapat dikatakan telah mendorongnya untuk masuk dalam lingkaran musik nasional. Waktu itu, tahun 1976, Deddy Dores yang tengah bergabung bersama Giant Step menyarankan agar teman-temannya di Giant Step menggunakan tenaga Jelly sebagai drummer, tetapi beberapa rekannya menolak. Akibat keputusan teman-temannya Deddy melepaskan diri dari Giant Step. Read More…

GPL UNPAD

GPL Unpad, berdiri pada sekitar bulan September tahun 1971. Banyak musisi yang sudah punya nama dalam musik nasional masuk Unpad, dalam kampus itulah mereka bergabung membuat suatu kelompok musik. Misalnya Rudi (drummer Bimbo), Benny Subardja dan Albert Warnerin (Giant Step) serta Indra Rivai.
GPL dapat dikatakan pelopor pada era tahun 1970-an ketika para remaja menyukai lagu-lagu rakyat. Kegiatan GPL ini juga menjadi pemicu apa yang disebut vocal grup, yang pada kemudian menjamur di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia saat itu.
Anggota GPL yang tampil dalam suatu panggung bisa terdiri dari sekitar 40 sampai 50 orang. Selain muncul dengan kekuatan suara, kekuatan mereka lainnya adalah penonjolan flute dan harmonika dalam musiknya.
Lagu-lagu yang dinyanyikan GPL, meliputi berbagai lagu rakyat dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya Henematov dari Afghanistan dan Haavanashirra lagu rakyat milik orang Yahudi.

EKSPOR MUSIK

Mengekspor Musik Indonesia

Oleh     :   R Muhammad Mulyadi.

 

            Tidak pernah dinyatakan oleh pemerintah bahwa Indonesia telah mengekspor musik ke berbagai negara, atau akan mengadakan program khusus untuk meningkatkan angka ekspor musik. Seperti menggenjot produk ekspor nonmigas lainnya. Mungkin ekspor alat musik sudah kita dengar. Tetapi mengenai ekspor musik rasanya tidak pernah kita dengar. Lalu apa pengertian mengekspor musik? Pengertian ekspor sama dengan pengertian ekspor pada umumnya, yaitu menjual sesuatu kepada negara lain. Sedangkan pengertian mengekspor musik adalah menjual musik ke negara lain. Lebih lanjut wujud musik yang diekspor dapat berupa produk industri musik seperti kaset, cd, atau vcd. Bisa juga hanya dalam wujud lagu dan musiknya saja yang dijual. Artinya, hak cipta nya saja yang dijual. Baik untuk kepentingan iklan, film, atau bentuk aplikasi lainnya seperti pada komputer dan ringtone hp. Di samping itu pengertian ekspor musik juga mencakup menampilkan para musisi dan penyanyi di panggung-panggung pertunjukan ke berbagai negara.

 

Kenapa harus mengekspor?

            Read More…

KLIPING: Lagu Anak-anak

Minggu, 10 Juni 2007
Laporan Utama Koran Tempo
(LAGU ANAK-ANAK)
Bermutu, tapi Sulit Populer

Pencipta lagu memadukan idealisme dan bisnis.
Deddy Dhukun pantang kapok. Meski lagu anak-anak ciptaannya tempo hari tidak laku di pasar dan sebagian besar anak sedang tersihir oleh lagu-lagu produk band remaja dan dewasa, ia tetap menciptakan lagu untuk anak-anak. Read More…

Ita Purnamasari

Penyanyi pop yang sampai tahun 2001 sudah merilis album ke sebelas yang berjudul Cintamu . Album kesebelasnya bermula dari iri melihat suami, Dwiki Darmawan musisi anggota kelompok Jazz Krakatau, yang sering membuat lagu atau aransemen musik untuk penyanyi lainnya. Sedangkan istri sendiri tidak pernah dibuatkan lagu untuk albumnya.
Untuk itulah Dwiki menyumbangkan lagu dan aransemen musiknya sesuai keinginan sang istri. Dalam album Cintamu penyanyi wanita kelahiran Surabaya, 15 Juli 1967 ini tampil dengan sentuhan orchestra yang digarap di Australia. Read More…

Irianti Erningpraja

Prestasinya lebih dahulu dalam dunia renang. Peraih medali perungu di Sea Games 1977 dan Asian games 1978. Medali dari olah raga yang ditekuninya mencapai enampuluh. Penyanyi anak dari Ehem Erningpraja ini juga merupakan pencipta lagu. Lagunya yang berjudul Salamku Untuknya yang dinyanyikan Vina Panduwinata menjadi juara satu Festival Lagu Pop Nasional 1983. Tahun 1984 lagunya yang berjudul Sapa Pagi Ceria masuk semifinal pada festival yang sama. Pada tahun 1986 lagu ciptaannya masuk dalam 12 besar festival yang saat itu paling bergengsi. Erni juga banyak menciptakan lagu yang dinyanyikan orang lain seperti Vina Panduwinata, Atiek CB, Vonny Sumlang, dan Indra Lesmana. Saat-saat kesibukannya sebagai pencipta lagu Anti (nama panggilannya) juga tetap kuliah di Jurusan Statistika IPB.

GEMBELS

Gembels, adalah singkatan dari gemar belajar. Terbentuk bulan Oktober 1969. Anggota grup band asal Solo ini adalah Viktor Nasution (organ dan terompet), Rudy Ananto (leader guitar dan sax), Abu Bakar (bass), Minto dan Yoyok (drum), Anas Zaman (piano, organ dan fluit), Ardi Karlosa (gitar dan biola) dan Micky Saparvi (organ) pada saat berdiri semuanya berstatus mahasiswa. Gembels pernah show di Singapura. Selama kariernya grup band ini menghasilkan album Pahlawan dan Tragedi Kaki Lima.