KLIPING: Lagu Anak-anak

Minggu, 10 Juni 2007
Laporan Utama Koran Tempo
(LAGU ANAK-ANAK)
Bermutu, tapi Sulit Populer

Pencipta lagu memadukan idealisme dan bisnis.
Deddy Dhukun pantang kapok. Meski lagu anak-anak ciptaannya tempo hari tidak laku di pasar dan sebagian besar anak sedang tersihir oleh lagu-lagu produk band remaja dan dewasa, ia tetap menciptakan lagu untuk anak-anak.
“Saya tidak akan putus asa dengan kondisi pasar saat ini. Akan terus berkarya,” kata Deddy, Rabu lalu. Sebagai bukti keseriusannya, kini Deddy sedang merilis album lagu bersama sejumlah anak berjudul Deddy dan Sobat.
“Beberapa lagu berkolaborasi dengan anak yang tergabung dalam Little Angel,” ujar Deddy. Lagu-lagunya bertema universal dan religius. “Meskipun untuk semua umur, lirik dan baitnya mudah dicerna dan diingat.” Seperti sembahyang, sehat itu mahal, dan mengajak ke kebaikan.
Agar bisa diterima pasar, lagu-lagu itu dikemas dengan sentuhan musik yang sedang jadi tren dan digemari anak-anak masa kini. “Perpaduan idealisme dan sisi komersialnya,” ujar Deddy.
Namun, supaya lagu laris manis, ada syarat yang diajukan Deddy, yakni dukungan pemerintah. “Dalam bentuk kebijakan pembatasan acara yang kurang edukatif di media massa,” katanya. Dengan regulasi, seniman terangsang kembali menciptakan karya yang mencerdaskan bangsa.
Persyaratan yang diajukan Deddy tersebut merupakan kata kunci setelah mengecap pengalaman pahit. Dua tahun lalu Deddy menciptakan lagu anak-anak dan berkolaborasi dengan bintang cilik Icha. Namun, album yang berjudul Lompat itu tidak sukses di pasar. “Jumlahnya kurang tahu, karena ditangani langsung oleh orang tua Icha sebagai produsernya,” kata Deddy.
Mengapa tidak sukses? Di antara kelemahannya, Deddy menambahkan, promosi albumnya tidak gencar. “Promosinya biasa saja, tidak dengan biaya besar.” Menurut Deddy, lirik lagunya telah sesuai dengan selera anak-anak dan mudah diingat.
Selain itu, lagu-lagu dewasa yang liriknya mudah diingat mulai menggeser lagu anak-anak. Populasi kelompok band remaja sedang memasuki puncak kejayaannya. “Di mana-mana ada pentas band, baik dalam acara off air maupun di siaran media massa,” kata Deddy. Akibatnya, media massa yang lebih mengutamakan keuntungan materi harus berpikir ulang mengganti tayangannya dengan acara lagu anak-anak. “Saat ini tayangan anak kurang menjual,” ujar Deddy.
Hal ini berdampak keputusan produser yang menghindari lagu anak. Deddy pernah mengalami kesulitan mencari produser ketika menciptakan lagu bersama penyanyi Tasya. “Susah mencari produser,” kata Deddy.
Lain lagi Agustinus Gusti Nugroho alias Nugie, yang mengklaim lagu anak-anak ciptaannya laris manis, seperti Kangen Dongeng dan Lonjak-lonjak, yang dinyanyikan Joshua Suherman. “Saat itu Joshua sangat berpengaruh terhadap anak-anak seusianya,” kata Nugie.
Kiatnya, berkompromi dengan sponsor yang menjadi payung produksi. Alasannya, komersialisasi tidak bisa dihindarkan. Meski begitu, idealisme tetap dipertahankan. “Saya bisa menciptakan lagu karena (terinspirasi) lagu-lagu Ibu Sud, Ibu Kasur, dan Pak A.T. Mahmud,” kata Nugie.
Nugie melihat saat ini tidak ada sosok penyanyi yang mewakili anak-anak seperti di masa Joshua, Trio Kwek-kwek, Adi Bing Slamet, dan Chicha Koeswoyo. “Yang muncul, anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa, atau suaranya sudah berteknik tinggi.”
Mantan penyanyi cilik Joshua Suherman berharap, agar lagu anak-anak dapat bangkit kembali, pencipta lagu dan produser harus melakukan kolaborasi antara artis cilik yang baru dan mantan artis cilik. “Kalau dengan kolaborasi, masih memungkinkan dibandingkan dengan membuat album untuk anak,” kata Joshua.
Keresahan sebagai dampak maraknya lagu dewasa yang diminati anak-anak pun mendera pencipta lagu Enteng Tanamal. Untuk menyiasatinya, sejumlah pencipta lagi anak-anak membuat lagu anak bersuasana rohani Kristen dan Islam. Sisi bisnis dan idealisme di ranah ini bisa didapat lantaran memiliki pasar tersendiri.
“Biasanya album kaset atau CD dijual saat pelayanan,” kata Enteng. Pesannya pun sampai, yaitu menghargai alam, sesama, orang tua, dan sang Pencipta. Sedangkan untuk menciptakan lagu anak-anak bertema umum, dalam situasi pasar yang belum berpihak pada lagu anak-anak, dia merasakan kesulitan menciptakan lagu.
Ahli sejarah industri musik Universitas Padjadjaran, Bandung, Muhammad Mulyadi, menilai di era anak-anak menggemari lagu remaja ini memang sulit menjadikan lagu anak-anak sebagai ajang bisnis. “Ini masanya lagu sebagai industri,” kata Mulyadi.
Meski begitu, ada cara yang bisa ditempuh untuk mempertahankan eksistensi lagu anak-anak. Yakni, bila lagu anak-anak sedang mengalami booming, produser harus menciptakan penyanyi baru lainnya sebagai pelapis atau pengganti. “Kalau Joshua dan Meisi turun panggung dan ada pelapisnya, mungkin nasib lagu anak-anak tak separah sekarang,” ujar Mulyadi.
Mulyadi sependapat dengan Deddy Dhukun soal pentingnya peran pemerintah dalam mendukung lagu anak-anak. Caranya, lagu anak yang baru dan bagus untuk pengembangan pendidikan anak mesti diajarkan di sekolah-sekolah. “Lagu-lagu A.T. Mahmud, Bu Kasur, dan Bu Sud bisa dinikmati anak-anak karena diajarkan di sekolah,” ujar Mulyadi.
ALI ANWAR | EKO ARI WIBOWO | YOPHIANDI

No Comments Yet

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment