<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lucky Mulyadi</title>
	<atom:link href="http://luckymulyadi69.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com</link>
	<description>Musik Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Feb 2009 05:56:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='luckymulyadi69.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lucky Mulyadi</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://luckymulyadi69.wordpress.com/osd.xml" title="Lucky Mulyadi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://luckymulyadi69.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SWAMI dan kritik sosial</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2009/02/02/swami-dan-kritik-sosial/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2009/02/02/swami-dan-kritik-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 05:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Kritik Sosial dalam Empat Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I Tugas mata kuliah Seminar dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya Semester Ganjil 2008/2009 Oleh: Agnes Setyowati H. Dhita Hapsarani Irzanti S. Muhammad Mulyadi R. Suryanto Satrio Arismunandar Program S3 &#8211; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Desember 2008 I. Latar Belakang Kesenian, khususnya seni musik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=80&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kritik Sosial dalam Empat Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I</strong></p>
<p>Tugas mata kuliah Seminar dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya<br />
Semester Ganjil 2008/2009</p>
<p>Oleh: </p>
<p>Agnes Setyowati H.<br />
Dhita Hapsarani<br />
Irzanti S.<br />
Muhammad Mulyadi<br />
R. Suryanto<br />
Satrio Arismunandar</p>
<p>Program S3 &#8211; Fakultas Ilmu Budaya<br />
Universitas Indonesia<br />
Desember 2008</p>
<p>I. Latar Belakang</p>
<p>	Kesenian, khususnya seni musik, merupakan bagian dari kebudayaan. Melalui musik, manusia mengekspresikan perasaan, harapan, aspirasi, dan cita-cita, yang me-representasikan pandangan hidup dan semangat zamannya. Oleh karena itu, melalui kesenian, kita juga bisa menangkap ide-ide dan semangat yang mewarnai pergulatan zaman bersangkutan.<br />
	Indonesia sendiri adalah suatu negeri yang kaya dengan berbagai karya seni, khususnya seni musik, yang mewakili pandangan hidup dan semangat zamannya. Salah satu era yang penting dalam perjalanan bangsa ini adalah era Orde Baru yang dimulai dengan naiknya Jenderal Soeharto ke tampuk pimpinan pemerintahan pada penghujung 1960-an sampai berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto pada penghujung 1990-an.<br />
	Salah satu grup musik yang sempat mewarnai era Orde Baru adalah Swami, dengan ikonnya Iwan Fals. Mereka telah menelurkan sejumlah album dan salah satu yang menonjol adalah album Swami I. Lirik-lirik lagu dalam album Swami I ini me-wakili pandangan hidup mereka, sekaligus mengekspresikan semangat zamannya. Untuk memahami lirik-lirik lagu yang ditampilkan dalam album Swami I, kita perlu meninjau konteks kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia pada era tersebut.  <span id="more-80"></span></p>
<p>1.1	Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia 1989<br />
Penghujung 1980-an adalah saat rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mencapai puncak kekuatannya.  Pemerintah Soeharto menjadikan ekonomi sebagai panglima dan seluruh elemen masyarakat dimobilisasi di bawah panji “pembangunan” (development).<br />
Konsep utama pembangunan seharusnya adalah perbaikan mutu kehidupan rakyat. Dalam pembangunan, seharusnya tercakup unsur perubahan yang berdimensi sosial kultural dan ekonomi, serta bersifat kualitatif dan kuantitatif. Namun, seperti di banyak negara berkembang lain,  pembangunan di Indonesia telah direduksi makna-nya menjadi “pertumbuhan ekonomi” (economic growth) semata sehingga pembangunan secara sederhana berarti pertumbuhan pendapatan setiap orang di daerah yang secara ekonomis terbelakang.<br />
Harus diakui, pembangunan ekonomi yang substansial memang pernah berja-lan di Indonesia. Pada tahun 1966, pendapatan per kapita tahunan di Indonesia sekitar US$ 75. Ekonomi ini terus tumbuh lewat utang luar negeri dan sumbangan sektor migas. Pertumbuhan ekonomi riil selama tahun 1980-an dan 1990-an hampir selalu berkisar antara 6 sampai 7 persen per tahun. Inflasi tahunan rata-rata masih dapat ditekan di bawah level 10 persen.<br />
Perbaikan yang berarti juga dicapai dalam pemberantasan tuna aksara di ka-langan orang dewasa, peningkatan  usia harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi, dan pembatasan tingkat pertumbuhan penduduk lewat program KB.<br />
Berbagai  hasil ini mendorong Bank Dunia untuk menjadikan Indonesia seba-gai contoh “model sukses” pembangunan. Indonesia diajukan sebagai tolok ukur ki-nerja negara-negara berkembang lain, dalam Laporan Pembangunan Dunia (World Development Report) 1990, yang disusun oleh Bank Dunia.<br />
Namun, ada harga yang harus dibayar untuk “kesuksesan ekonomi” itu. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah memerlukan kestabilan politik di dalam negeri. Selanjutnya, dengan dalih perlunya stabilitas politik ini, pemerintah bersikap represif dan memberlakukan sejumlah aturan otoriter.<br />
Pers dan media massa dikontrol ketat. Media yang kritis dibreidel dan dilarang terbit. Jumlah partai politik dibatasi, dan mereka tidak boleh masuk ke desa-desa. Sementara pegawai negeri dan anggota keluarga ABRI dipaksa memilih Golkar, partainya penguasa. Lewat para pejabat, Golkar justru leluasa masuk ke desa-desa.<br />
Tokoh-tokoh oposisi yang kritis dipenjarakan atau disingkirkan,  sedangkan, kebebasan berekspresi di bidang seni juga ditindas, khususnya kalangan seniman yang tidak sejalan dengan kepentingan rezim.  Jika diperlukan, pemerintah juga tidak se-gan-segan menggunakan cara-cara represif, demi “menjaga ketertiban masyarakat” dan “melancarkan jalannya roda pembangunan.”<br />
Karena yang dinomorsatukan adalah pertumbuhan ekonomi, sementara distri-busi ekonomi atau pemerataan kesejahteraan tidak menjadi prioritas, maka terjadilah kesenjangan antara kelompok elite atau mereka yang diuntungkan oleh “pem-bangunan,” dan rakyat banyak yang tertinggal atau ditinggalkan dalam proses “pem-bangunan.”<br />
Ada sejumlah konglomerat, pengusaha, birokrat, dan pejabat yang -karena kedekatan dengan penguasa- menikmati kue pembangunan. Sebaliknya, banyak rak-yat kecil yang hidupnya tertekan. Teori bahwa kemakmuran di kalangan atas pada akhirnya akan mengalir ke bawah (trickle-down effect) dan dinikmati oleh kalangan bawah, ternyata tidak terbukti.<br />
Yang kaya bisa semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin. Presiden Soeharto sendiri diduga memiliki kekayaan miliaran dollar pada tahun 1989. Jika digabung dengan harta istri dan anak-anaknya, ditambah lingkaran kroni sipil dan militernya, jumlah tersebut membengkak sampai puluhan miliar dollar.  Keakuratan angka ini mungkin bisa diperdebatkan, tetapi fakta bahwa Soeharto beserta keluarga dan kroni-kroninya telah menumpuk kekayaan dengan memanfaatkan kekuasaan, tampaknya disepakati oleh banyak pengamat.<br />
Strategi politik dan ekonomi Soeharto – yang bermotivasi pengumpulan harta besar-besaran  bagi segelintir manusia, sementara mengesampingkan kepentingan ma-yoritas penduduk – telah ditanamkan di Indonesia sejak akhir tahun 1960-an.  Sayangnya, sistem politik Indonesia yang otoriter menyulitkan berjalannya pengawasan yang efektif terhadap pihak-pihak yang ingin menggunakan kekayaan negara untuk keuntungan pribadi.<br />
Kesenjangan semacam inilah yang dilihat para anggota Swami dalam inter-aksinya sebagai seniman dengan masyarakat sehari-hari. Gambaran suram dan mem-prihatinkan inilah yang memberi inspirasi pada karya-karya mereka, yang bercorak kritik sosial. Pihak yang kaya dan berkuasa asyik dengan ambisi dan kenikmatan hidupnya sendiri, sementara rakyat kecil yang seharusnya disejahterakan ternyata nasibnya malah diabaikan. </p>
<p>1.2.  Alasan Pemilihan Album Swami I<br />
	Album Swami I dipilih karena album ini dianggap mewakili semangat zaman-nya. Salah satu ukuran keterwakilan itu adalah respons positif masyarakat terhadap album serta lagu-lagu di dalamnya, yang bisa dilihat dari angka penjualan. Album Swami ini meledak di pasaran.<br />
Angka penjualan album ini sangat tinggi, hingga mencapai 800 ribu kopi dalam jangka waktu satu bulan. Padahal, angka penjualan tersebut dicapai tanpa pro-mosi besar-besaran. Swami I berhasil mencapai sukses di pasar industri musik Indo-nesia dengan lagu-lagu yang sarat dengan kritik sosial sekaligus menghibur. </p>
<p>1.3. Alasan Pemilihan Empat lagu<br />
Hampir semua lagu di album Swami I ini menjadi hits, tetapi yang dikate-gorikan sebagai hits besar dari Swami adalah lagu Bento dan Bongkar.  Dua lagu lain yang dipilih untuk dianalisis di sini adalah Potret dan Oh…Ya!. Empat lagu ini dipilih karena popularitasnya, dan sekaligus juga karena lagu-lagu itu menunjukkan karakter yang kuat dalam konteks kritik sosial. </p>
<p>1.4. Permasalahan<br />
Secara sepintas, lagu-lagu dalam album Swami I mengekspresikan kritik sosial. Namun, tim peneliti ingin menelaah secara lebih spesifik. Pertama, bagaimanakah penguasa atau kelas atas ditampilkan dalam lirik-lirik lagu Swami? Kedua, di sisi lain, bagaimanakah kelas bawah ditampilkan? Ketiga, bagaimanakah pertentangan kelas ditampilkan? Dan terakhir, kritik sosial macam apakah yang diangkat di dalam keempat lirik ini? </p>
<p>1.5. Tujuan<br />
Makalah ini hendak menunjukkan kritik sosial yang ditampilkan dalam lirik dari keempat lagu Swami I dengan menganalisis representasi penguasa, kelas atas, kelas bawah, dan pertentangan di antara mereka.</p>
<p>1.6. Metodologi dan Metode Penelitian<br />
Makalah ini menggunakan pendekatan kualitatif dan lintas disiplin yang meliputi bidang ilmu sejarah, filsafat, susastra, dan linguistik.<br />
Metodologi yang diterapkan adalah metodologi kualitatif karena objek pene-litian berupa lirik lagu, dan tujuan penelitian adalah memahami isi lirik lagu, dalam kaitannya dengan peristiwa sosial. Pemahaman dilakukan melalui interpretasi peneliti dengan pisau analisis teori konotasi dari Barthes.<br />
	Berhubungan dengan metodologi tersebut, berikut ini uraian metode yang dilaksanakan: Lirik lagu dari album Swami I diklasifikasi berdasarkan topik. Pada tahap selanjutnya, dipilih empat lirik lagu berdasarkan sebuah topik. Kemudian, kata-kata yang memperlihatkan fenomena yang sesuai dengan topik dipilah dan dikelom-pokkan. Akhirnya, data dianalisis untuk mencapai tujuan penelitian.</p>
<p>II. Grup Musik Swami<br />
2.1. Lahirnya Swami<br />
Swami adalah grup musik yang dibentuk oleh Setiawan Djodi, Iwan Fals, Sawung Jabo,  Innisisri, Naniel,  dan Nanoe pada tahun 1989. Swami dijadikan nama grup, atas usul Sawung Jabo yang berasal dari plesetan &#8216;Suami,&#8217; karena semua anggotanya berstatus suami.<br />
Kesepakatan awal para anggota Swami adalah membentuk grup untuk jangka waktu tiga tahun. Oleh karena itu, Swami membubarkan diri pada 1991.<br />
Tidak lama setelah dibentuk, Swami berhasil mengeluarkan album yang diberi judul Swami. Dalam album Swami I yang berformat kaset, terdapat sepuluh lagu yang masing-masing side memuat lima lagu. Dalam side A termuat lagu-lagu, dengan data musisi yang menciptakan lagu tersebut. Lengkapnya adalah sebagai berikut:<br />
Side A<br />
1. Bento (Iwan Fals / Naniel ) -SWAMI<br />
2. Bongkar (Iwan Fals / Sawung Jabo) -SWAMI<br />
3. Badut (Iwan Fals / Sawung Jabo / Naniel) -SWAMI<br />
4. Esek.Esek..Udug.Udug.. (Iwan/ Jabo / Naniel) -SWAMI<br />
5. Potret (Iwan Fals / Sawung Jabo / Naniel) -SWAMI</p>
<p>Sementara dalam side B, lagu-lagu yang dimuat dengan data musisi yang menciptakannya adalah sebagai berikut:<br />
Side B<br />
1. Bunga Trotoar (S Djody / Iwan / Jabo / Naniel) -SWAMI<br />
2. Oh&#8230; Ya! (Iwan Fals / Sawung Jabo / Naniel) -SWAMI<br />
3. Condet (Iwan Fals / Naniel) &#8211; -SWAMI<br />
4. Perjalanan Waktu (Iwan Fals / S.Jabo / Naniel) –SWAMI<br />
5.  Cinta (Iwan Fals/ Sawung Jabo/Naniel)- SWAMI</p>
<p>Album Swami I ini diproduksi pada tahun 1990 oleh Airo Records Pro-ductions, suatu perusahaan rekaman yang dapat dikelompokkan sebagai minor label . Pada sampul album ini nama Iwan Fals dicantumkan di atas nama Swami, atas usulan Setiawan Djodi, yang merasa tanpa nama Iwan Fals, album Swami tidak akan dilirik. Dengan demikian Iwan Fals dijadikan trade mark, bukan Sawung Jabo dengan grup Sirkus Barock-nya.<br />
Saat itu Iwan Fals dinilai sebagai musisi yang berani mengkritik korupsi dalam pemerintah yang berkuasa (terutama pada masa rezim Orde Baru) dan yang lirik-liriknya menyentuh hati berbagai kalangan masyarakat (terutama rakyat kecil). Hal ini menjadi istimewa mengingat tidak banyak artis yang memiliki keberanian dan karakter merakyat seperti Iwan Fals. Kebanyakan artis pop pada masa itu dipandang kurang peka pada masalah-masalah sosial sehingga ada yang mengatakan bahwa mu-sik Iwan Fals merupakan suara rakyat (voices of people).<br />
Faktor utama yang menyebabkan popularitas lagu-lagu Iwan Fals dan kelom-pok musik Swami I adalah tema musik yang mengambil inspirasinya dari kehidupan sehari-hari sehingga meninggalkan kesan memasyarakat, serta kritik sosialnya yang dinilai berani.<br />
Masuknya Setiawan Djodi ke dalam kelompok Swami merupakan suatu anomali. Pada satu sisi kelompok Swami adalah kelompok musik yang mengusung lagu-lagu protes sosial sebagai tema utamanya, pada sisi lain Setiawan Djodi adalah bagian dari kelas sosial yang diprotes. Setiawan Djodi dikenal sebagai seorang konglomerat kaya raya, yang punya hubungan dekat atau perkawanan dengan putra-putra Presiden Soeharto.<br />
Popularitas memang tidak otomatis identik dengan kualitas karya. Namun, dalam melihat kualitas musik Swami I, harus dipahami bahwa seni (modern) tidak hanya identik dengan keindahan, melainkan meliputi kategori-kategori lainnya, seper-ti tragis dan ketidakharmonisan (sebagai kebalikan dari keselarasan), serta pemberon-takan.<br />
Manusia memang tidak selalu menjadi homo estheticus, melainkan juga manusia sosial, yang berakar pada sejarah dan kondisi sosial-masyarakat tertentu sehingga tidak mengherankan, jika dalam menciptakan sebuah karya seni seorang se-niman akan mendapat pengaruh pula dari lingkungan dan zamannya.<br />
2.2. Konteks Pembuatan Lagu<br />
Menurut pengakuan Iwan Fals, sebagai bagian dari grup Swami, semua lagu yang dibuatnya jujur dan mempunyai peristiwa, meskipun ada unsur pendramtisa-sian. Unsur pendramatisasian paling tampak pada lagu-lagu pesanan.<br />
Secara pasti Iwan Fals juga menyatakan bahwa tujuannya membuat lagu adalah untuk dijual dan laku. Namun, antara pilihan laku dan suara hati, Iwan menya-takan suara hati adalah pilihannya, meskipun unsur ingin laku selalu mempenga-ruhinya. Hanya saja pada saat membuat syair, tidak ada urusannya dengan itu.<br />
Lagu Bongkar, misalnya, pada awalnya bukan seperti yang sudah ada di al-bum rekaman Swami I. Gagasan lagu Bongkar berasal dari beberapa kasus penggu-suran yang terjadi pada saat Orde Baru, seperti kasus Kedung Ombo, Kaca Piring, dan Way Jepara. Kemudian Sawung Jabo mengusulkan perubahan lagu Bongkar dan disetujui oleh anggota Swami.<br />
Perubahan dilakukan dengan tidak membahas kasus per kasus dalam setiap lagu. Iwan melihat usulan Sawung Jabo tersebut sebagai pemikiran yang tepat, karena lagu Bongkar lebih langsung mengenai sasaran. Lebih otentik dan jujur.  </p>
<p>III. Kerangka Teori<br />
Representasi merupakan salah satu proses dalam sirkuit kebudayaan di sam-ping identitas, produksi, konsumsi, dan regulasi yang beroperasi berdasarkan sistem tanda. Tanda-tanda tersebut menghasilkan makna tertentu, yang pada akhirnya dapat memperlihatkan identitas individu atau kolektif, serta posisi yang diambil oleh pem-buat representasi.<br />
Posisi yang berbeda akan menghasilkan representasi yang berbeda. Represen-tasi budaya yang dihasilkan pemerintah Orde Baru pastilah berbeda dari representasi budaya yang dihasilkan oleh mereka yang berada pada posisi yang berseberangan dengan Orde Baru.</p>
<p>3.1 Teori Konotasi Roland Barthes<br />
	Dalam linguistik modern, makna unsur leksikal dibedakan atas makna yang objektif dan tetap, serta yang subjektif dan bervariasi. Meskipun berbeda, kedua makna tersebut ditentukan oleh konteks.<br />
Makna yang pertama, makna denotatif,  berkaitan dengan sosok acuan, mi-salnya kata merah bermakna ‘warna seperti warna darah’ (secara lebih objektif, makna dapat digambarkan menurut tata sinar). Konteks dalam hal ini untuk meme-cahkan masalah polisemi; sedangkan pada makna konotatif, konteks mendukung munculnya makna yang tidak objektif.<br />
		Barthes mengatakan bahwa sebuah tanda (dalam hal ini tanda bahasa) adalah sebuah sistem yang terdiri atas expression/Signifier (E) yang dihubungkan (Relation/R) dengan content (C). Dalam kaitannya dengan penanda (expression/ signifier) dan petanda/konsep (content/signified), Barthes menggambarkan hubungan kedua makna tersebut sebagai berikut:</p>
<p>           Expression2                 (R<br />
           MERAH<br />
	2)     Content 2<br />
	‘gembira/komunis’</p>
<p>Expression1 (R<br />
  MERAH<br />
	1) Content 1<br />
	     ‘warna’<br />
          Tanda<br />
          sekunder:  konotasi</p>
<p>           Tanda<br />
           primer: denotasi</p>
<p>Menurut Barthes, makna lain yang tidak objektif dan tidak tetap seperti itu adalah makna konotatif. Makna ini berkaitan dengan:<br />
1.  majas (metafora, metonimi, hiperbola, eufemisme, ironi, satira, dan sebagainya);<br />
2. pengalaman pribadi atau masyarakat penuturnya, yang menimbulkan reaksi dan memberi makna konotasi emotif. Misalnya: halus, kasar/tidak sopan, peyoratif, akrab, kanak-kanak, menyenangkan, menakutkan, bahaya, tenang, dan sebagainya. Jenis ini tidak terbatas.<br />
Pada contoh di atas: MERAH bermakna konotatif emotif. Konotasi ini bertujuan membongkar makna yang terselubung.<br />
	Lirik lagu Swami menarik dianalisis dengan teori Barthes, karena mengan-dung makna konotatif, baik yang berupa majas maupun yang berupa reaksi.</p>
<p>3.2 Teori Pertentangan Kelas Karl Marx </p>
<p>Marx menyatakan bahwa sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pa-da dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas, yakni antara kelas yang memi-liki alat-alat produksi (kaum kapitalis) dan kelas yang tidak memiliki alat-alat pro-duksi (kelas pekerja atau buruh).<br />
Kaum kapitalis memeras tenaga buruh demi keuntungan modal dan membuat kelas pekerja ini hidup dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi. Dengan demi-kian, kelas pekerja ini teralienasi dan tidak bisa mengembangkan potensi-potensi ke-manusiaannya.<br />
Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada pada akhirnya akan kalah dan di-gantikan dengan komunisme. Kapitalisme akan berakhir akibat aksi yang dikelola oleh kelas pekerja internasional. Kondisi ideal masyarakat tanpa kelas akhirnya akan tercapai, setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai wujud kediktaktoran proletariat.<br />
Di Indonesia, Soekarno mencoba menerjemahkan, mengadaptasi, dan menga-plikasikan teori Marx tersebut ke dalam konteks Indonesia, yang berbeda dengan kon-teks Rusia, tempat asal teori Marx. Di Indonesia, yang ada bukanlah kelas pekerja (buruh) yang sama sekali tidak memiliki alat-alat produksi seperti di Rusia, melain-kan kalangan rakyat kecil yang memiliki alat produksi sendiri, tetapi dalam jumlah yang sangat kecil, misalnya, petani yang memiliki sepetak sawah kecil, tukang bakso yang  memiliki satu gerobak bakso sendiri, pedagang asongan yang memiliki lapak kecil, tukang becak yang memiliki satu becak sendiri, dan sebagainya. Bung Karno menyebut mereka sebagai “kaum Marhaen,”  dan ideologinya disebut Marhae-nisme.<br />
Teori pertentangan kelas dari Marx, dengan versi adaptasinya seperti yang digagas oleh Soekarno, digunakan dalam menganalisis teks di makalah ini. Pertimbangan penggunaannya adalah karena teori tersebut dianggap cocok dengan konteks situasi dan kondisi masyarakat Indonesia era Orde Baru (1989), khususnya pada saat kelompok musik Swami menghasilkan karya-karyanya. </p>
<p>IV. Analisis Lirik Lagu</p>
<p>Keberadaan Iwan Fals, yang dikenal dengan lagu-lagunya yang penuh dengan kritik sosial, sebagai anggota grup band SWAMI menjanjikan bahwa album SWAMI I diwarnai oleh lirik lagu yang bersifat mengritik penguasa. Memang jika dilihat dari permukaan, tampaknya keempat lirik lagu ini ditandai dengan kritikan terhadap  penguasa dan penindasan yang mereka lakukan kepada masyarakat miskin. Keempat lirik lagu mengangkat dua kelas sosial yang saling berseberangan, yaitu kelas bawah yang tertindas dan kelas atas yang menindas.<br />
Kelas bawah diwakili oleh tiga lirik lagu, yaitu Potret, Oh ya, dan Bongkar sementara kelas atas diwakili oleh lirik lagu Bento. Kelas bawah di dalam keempat lirik ini digambarkan sebagai kelompok orang yang tertindas oleh kemiskinan dan oleh kesewenangan dan keserakahan penguasa. Ketertindasan oleh kemiskinan diangkat dalam lirik lagu Potret dan Oh ya. Potret menyoroti miskinnya kehidupan masyarakat di kalangan ini sehingga yang menjadi tujuan hidup mereka hanya memenuhi kebutuhan primer, yaitu uang untuk membeli makanan. Hal ini secara gamblang dinyatakan di dalam bait pertama dan bait ketiga:<br />
Orang orang resah<br />
Berlomba kejar nafkah<br />
Demi anak bini<br />
Demi sesuap nasi</p>
<p>Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?</p>
<p>Orang-orang dari kelompok sosial ini ditampilkan sebagai orang-orang yang resah karena harus berlomba mengejar nafkah. Mencari uang untuk membeli makanan diumpamakan sebagai sebuah pertandingan. Siapa cepat dia yang dapat. Itu semua dilakukan hanya untuk mendapatkan uang dan nasi, yang berarti bahwa nafkah yang dikejar itu bukan uang dalam jumlah besar melainkan jumlah yang kecil. Ukuran kecil di sini karena hanya cukup untuk membeli makanan. Pengulangan pertanyaan Uang dimana uang? Nasi dimana nasi? dalam bait ketiga memperlihatkan bahwa yang menjadi obsesi orang-orang ini adalah uang dan nasi.<br />
Dalam lirik lagu Oh ya, kondisi miskin yang menguasai kelas bawah diperlihatkan secara tajam melalui kontras antara impian masyarakat kelas bawah dengan kenyataan yang dihadapinya. Di dalam lirik lagu ini, aku lirik yang berasal dari kelas bawah bermimpi untuk memiliki materi dan kedudukan yang umumnya menjadi penanda kelas atas. Materi yang diimpikan adalah mobil yang dikontraskan dengan bus, dan rumah dengan gubuk. Meskipun mobil dan bus sama-sama merupakan alat transportasi, tetapi kualitasnya berbeda. Demikian juga rumah dan gubuk. Mobil dan rumah menawarkan kenyamanan sekaligus prestise yang tidak didapatkan dari bus dan gubuk. </p>
<p>Andaikata aku di mobil itu<br />
Tentu tidak di bus ini<br />
Seandainya aku rumah itu<br />
Tentu tidak di gubuk ini</p>
<p>Impian lainnya berkaitan dengan kedudukan yang ditandai dengan kontras antara direktur dengan penganggur. Selain menyatakan jabatan yang tinggi di dalam susunan organisasi perusahaan, direktur juga mengindikasikan posisi yang tinggi di dalam pandangan masyarakat yang tidak didapatkan aku lirik sebagai penganggur. Kontras ini menunjukkan betapa jauhnya perbedaan antara impian dengan kenyataan yang dihidupi oleh aku lirik. </p>
<p>Kalau saja aku jadi direktur<br />
Tentu tidak jadi penganggur<br />
Umpamanya aku dapat lotere<br />
Tentu saja aku tidak kere</p>
<p>Setelah berangan-angan untuk menjadi direktur, aku lirik berandai-andai mendapat lotere, yang kemudian dikontraskan dengan kenyataan bahwa ia hanya kere. Pemilihan kata kere ini menunjukkan bahwa aku lirik berada pada tingkat sosial yang paling rendah. Terdapat rasa pesimis di sini bahwa keadaan aku lirik sudah sedemikian terpuruk sehingga tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Yang dapat dilakukannya hanyalah berkhayal sebagaimana tampak dari pengulangan kata-kata pengandaian seperti andaikata, seandainya, kalau saja, umpamanya.<br />
A a a andaikata<br />
Se se se seandainya<br />
Oh ya!<br />
Ka ka ka kalau saja<br />
U u u umpamanya<br />
Oh ya!</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku (2x)</p>
<p>Aku bosan</p>
<p>A a a andaikata<br />
Se se se seandainya<br />
Ka ka ka kalau saja<br />
U u u umpamanya<br />
Oh ya!</p>
<p>Karena terlalu sering bermimpi, pada akhirnya aku lirik menjadi bosan dan pasrah pada nasib, pada takdir. Dengan mengatakan bahwa semua perbedaan itu merupakan nasib dan takdir, maka aku lirik tidak melihat adanya jalan keluar dari kemiskinannya.<br />
	Di dalam lirik lagu Bongkar sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang kami (jamak), yang merupakan bagian dari kelas bawah. Lagu ini menunjukkan bagaimana kelas bawah memandang dirinya sendiri serta kelas atas, dalam hal ini penguasa. Kami menampilkan dirinya sebagai sebagai orang-orang yang marah karena merasa telah menjadi korban penindasan orang-orang yang berkuasa.<br />
Kalau cinta sudah di buang<br />
Jangan harap keadilan akan datang</p>
<p>Sabar sabar sabar dan tunggu<br />
Itu jawaban yang kami terima</p>
<p>Mereka terbiasa diperlakukan dengan tidak adil yang tercermin dari tidak adanya harapan bahwa keadilan akan datang. Mereka juga terbiasa ditelantarkan dan tidak dilayani sebagaimana tampak dari jawaban yang mereka terima (sabar sabar sabar dan tunggu) dari orang-orang yang seharusnya memberikan layanan publik.<br />
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan<br />
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan</p>
<p>Lirik ini dengan gamblang memperlihatkan kemuakan dan kemarahan mereka akan ketidakpastian dan keserakahan, yang mengacu pada penguasa yang tidak adil dan tidak kompeten dalam menjalankan tugas mereka.<br />
	Kelas penguasa di dalam lirik lagu Bongkar dapat dikategorikan ke dalam kelas atas karena mereka memiliki posisi yang tinggi dalam masyarakat. Mereka memiliki kekuasaan untuk mengatur dan mengelola masyarakat. Kelas atas, dalam hal ini penguasa, diperlihatkan telah kehilangan cinta yang dapat dibaca sebagai telah kehilangan hati nurani yang membuat mereka mampu bertindak sewenang-wenang.<br />
Penindasan serta kesewenang wenangan<br />
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan<br />
…<br />
Kesedihan hanya tontonan<br />
Bagi mereka yang diperkuda jabatan</p>
<p>Pemakaian kata diperkuda jabatan  mengacu pada penguasa yang telah dikuasai oleh jabatan mereka sehingga kehilangan hati nurani. Akibatnya, mereka melihat kesedihan orang lain hanya sebagai tontonan dan tidak tergerak untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Mereka ini adalah orang-orang yang terobsesi dengan kedudukan mereka sehingga kehilangan kemanusiaan mereka.<br />
	Penggambaran yang serupa juga ada di dalam lirik lagu Bento. Aku lirik di dalam lagu ini adalah Bento yang adalah seseorang pengusaha papan atas. Untuk mengukuhkan kedudukannya sebagai tokoh kelas atas, Bento memamerkan kekayaannya, status sosialnya dan kekuasaannya.<br />
Namaku Bento rumah real estate<br />
Mobilku banyak harta berlimpah<br />
Orang memanggilku boss eksekutif<br />
Tokoh papan atas atas segalanya</p>
<p>Asyik</p>
<p>Tingkat kekayaan yang dipamerkannya ditandai dengan rumah, mobil, dan harta. Pemakaian kata real estate yang berasal dari bahasa Inggris menunjukkan bahwa rumah yang dimaksud bukan rumah biasa melainkan rumah yang memiliki nilai sosial tertentu. Mobil yang dimilikinya juga tidak hanya satu, tetapi banyak yang semakin diperkuat dengan harta yang berlimpah. Untuk memperlihatkan kedudukannya, ia memosisikan dirinya sebagai boss eksekutif. Kata boss menunjukkan bahwa ia berada pada puncak pimpinan sehingga memiliki kekuasaan yang besar atas bawahannya. Eksekutif dapat memiliki dua arti karena dapat berarti top management dari suatu perusahaan, tapi dapat juga mengacu pada badan eksekutif pemerintahan. Tidak cukup dengan memperlihatkan posisi strukturalnya, Bento menegaskan bahwa ia merupakan tokoh papan atas atas segalanya yang dapat diartikan bahwa ia menganggap dirinya sebagai tokoh masyarakat di dalam segala bidang.<br />
	 Deksripsi diri yang dilakukan Bento  memperlihatkan nada sombong dan pongah. Ia tampak begitu menikmati kedudukan, kekayaan dan keberhasilannya. Ia bahkan melanjutkan deskripsi dirinya dengan menyombongkan wajahnya yang ganteng yang menjadikannya pujaan banyak wanita. Banyak simpanan yang mengacu pada wanita yang sekali dilirik mau dijadikan simpanannya merupakan suatu cara untuk menunjukkan bahwa kekuasaannya tidak berhenti pada materi dan kedudukan, tetapi juga manusia.<br />
Wajahku ganteng banyak simpanan<br />
Sekali lirik oke sajalah<br />
Bisnisku menjagal jagal apa saja<br />
Yang penting aku senang aku menang</p>
<p>Sikap yang sama juga ditunjukkan dengan deskripsinya tentang bagaimana ia menjalankan usahanya. Bento diperlihatkan menyombongkan dirinya dengan mengatakan bahwa bisnisnya menjagal apa saja yang ia inginkan. Secara implisit pernyataan ini menunjukkan bahwa kekuasaannya begitu besar sehingga ia dapat dengan mudah menjatuhkan orang lain yang diinginkannya.<br />
Persetan orang susah karena aku<br />
Yang penting asyik sekali lagi</p>
<p>Asyik</p>
<p>Pengulangan kata asyik semakin menekankan bahwa kesenangan dan kepuasannya adalah yang paling penting baginya. Ia tidak peduli pada akibat yang ditimbulkannya pada orang lain.</p>
<p>Khotbah soal moral omong keadilan<br />
Sarapan pagiku<br />
Aksi tipu tipu lobying dan upeti<br />
Woow jagonya</p>
<p>Maling kelas teri bandit kelas coro<br />
Itu kantong sampah<br />
Siapa yang mau berguru datang padaku<br />
Sebut tiga kali namaku Bento Bento Bento</p>
<p>Asyik</p>
<p>Bento juga memperlihatkan dirinya sebagai penipu ulung yang tidak memiliki rasa bersalah. Ia bahkan memproklamasikan dirinya sebagai penjahat paling top, jauh di atas maling dan bandit.<br />
	Secara keseluruhan, deskripsi Bento tentang dirinya sebenarnya merupakan suatu strategi untuk membongkar apa yang ada di balik kekayaan dan keberhasilan yang tampak dari luar tanpa harus menudingkan jari kepada orang lain karena Bento membuka kedoknya sendiri. Kepongahan Bento di satu sisi merupakan satir terhadap kepongahan kelas atas dan di sisi lainnya menciptakan jarak antara pembaca dengan Bento  karena sulit bagi pembaca untuk bersimpati pada tokoh seperti dia.<br />
Jika representasi kelas bawah dan atas diperbandingkan, tampak ada perbedaan kelas antara yang kaya dan yang miskin, antara yang berkuasa dan yang tertindas. Dalam beberapa lirik lagu, perbedaan tersebut mengarah pada pertentangan kelas. Yang paling menonjol terlihat di dalam lirik lagu Bongkar. Di dalam lirik lagu ini jalan keluar yang dipilih kelas bawah untuk menyampaikan aspirasi mereka adalah dengan turun ke jalan atau melakukan demonstrasi. Penguasa direpresentasikan sebagai setan yang berdiri mengangkang yang dapat diartikan sebagai kekuatan jahat yang menunjukkan kekuasaannya dengan menghalangi tercapainya tujuan demonstrasi. Pertentangan dipertajam dengan refrain lagu yang mengulang-ulang kata bongkar.<br />
Ternyata kita harus ke jalan<br />
Robohkan setan yang berdiri mengangkang</p>
<p>Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar</p>
<p>Dalam Bongkar, kaum yang tertindas pada awalnya diperlihatkan memiliki keberanian menyuarakan keinginannya untuk mengubah keadaan. Akan tetapi, menjelang akhir lirik, pertentangan kelas yang dilakukan di jalan itu ditarik ke dalam rumah, yaitu pada kehidupan rumah yang tidak harmonis. Rumah dalam lirik ini merupakan analogi sebagai keadaan negara atau pemerintahan yang diacu di bagian awal lirik. Jika pemerintahan dianalogikan sebagai rumah Dalam rumah ada orang tua yang juga dapat dianalogikan sebagai pemimpin atau pemerintahan.<br />
Karena pemerintah dianalogikan sebagai keluarga, seolah-olah menjadi sebuah kemustahilan untuk melakukan perlawanan. Melalui analogi semacam itu, pertentangan kelas pun tidak terlihat frontal. Seperti halnya dalam keluarga, harmoni tetap dijaga, meskipun terjadi perselisihan-perselisihan dalam keluarga. Kata cinta dan keinginan diperlakukan manusiawi yang muncul pada lirik puisi, mengurangi tegangan emosi yang terdapat pada larik-larik sebelumnya sehingga perlawanan menjadi lebih “halus”.<br />
Ungkapan Kok Bisa? Bisa kok! yang mengakhiri lirik lagu ini dapat dimaknai sebagai sebuah keingintahuan akan sebuah jawaban. Pertanyaan Kok Bisa? meragukan kemungkinan melawan “orang tua” tetapi jawaban Bisa kok! memberikan nada optimis bahwa perlawanan mungkin untuk dilakukan.<br />
Pertentangan kelas yang halus dan tidak frontal tersebut didukung oleh persamaan antara kedua kelas. Kedua kelas yang tampaknya berseberangan dan berbeda ini ternyata memaknai keberhasilan dan kesuksesan dari segi materi, yaitu rumah, mobil, harta, dan kedudukan. Hal ini terlihat jelas dalam lirik lagu Oh ya  dan Bento. Kelas bawah dalam Oh ya  bermimpi naik mobil dan bukan bus, memiliki rumah dan bukan gubuk, menjadi direktur dan bukan penganggur, serta mendapat uang banyak dari lotere sehingga tidak lagi menjadi kere. Sementara Bento sesumbar bahwa rumahnya adalah rumah real estate, mobilnya banyak, hartanya berlimpah dan jabatannya boss eksekutif serta tokoh papan atas.<br />
Kedua kelas juga sama-sama diperlihatkan diperbudak oleh obsesi dan ambisi mereka. Dalam Potret diperlihatkan bahwa orang-orang dari kelas bawah ini resah karena mereka harus mengejar nafkah hidup mereka. Mereka bahkan ditampilkan sangat terobsesi dengan pencarian nafkah hidup tersebut, sebagaimana terlihat dalam pemakaian pertanyaan Uang dimana uang? dan nasi dimana nasi? sebagai refrain lagu.<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?</p>
<p>Obsesi itu begitu menguasai mereka sehingga mereka ditampilkan telah kehilangan kemanusiaan mereka. Mereka dibandingkan dengan hewan dan dengan kereta api.<br />
Seperti binatang<br />
Bila lapar menerjang<br />
Seperti kereta<br />
Nafasnya terdengar</p>
<p>Lidahnya terjulur<br />
Syahwatnya siap lentur<br />
Soal harga diri<br />
Sudah tak berarti</p>
<p>Orang-orang yang terobsesi oleh urusan perut dan nafkah ini diperlihatkan seperti binatang yang dikuasai rasa lapar, dikuasa insting dan bukan lagi rasio. Mereka dibandingkan dengan kereta yang nafasnya memburu dan seperti binatang yang dikuasai nafsu: nafasnya memburu, lidahnya terjulur dan syahwatnya siap lentur. Lebih jauh lagi secara gamblang dinyatakan bahwa mereka tidak lagi peduli soal harga diri sebab yang ada dalam pikiran mereka semata-mata adalah mendapatkan uang dan nasi.<br />
Obsesi kelas atas diperlihatkan dalam Bento. Bagi orang macam Bento, bukan uang dan nasi yang dicari karena ia sudah memiliki kemewahan dan kelimpahan dalam segala hal.<br />
Namaku Bento rumah real estate<br />
Mobilku banyak harta berlimpah</p>
<p>Rumahnya bukan di kampung, tetapi di real estate yang menunjukkan bahwa ia merupakan bagian dari kelas atas. Dengan mobil yang banyak dan harta berlimpah tentu saja kebutuhan Bento bukan lagi pada kebutuhan tahap primer, berbeda dari orang-orang resah yang dipotret dalam lirik lagu Potret.<br />
Bento direpresentasikan sebagai orang yang dikuasai dan diperbudak oleh nafsunya.<br />
Bisnisku menjagal jagal apa saja<br />
Yang penting aku senang aku menang</p>
<p>Persetan orang susah karena aku<br />
Yang penting asyik sekali lagi</p>
<p>Asyik</p>
<p>Obsesinya adalah mendapatkan apa saja yang dia inginkan karena hal itu mendatangkan kesenangan dan keasyikan, meskipun cara yang dipakai adalah dengan melakukan berbagai tindakan yang merugikan orang lain (Bisnisku menjagal jagal apa saja). Pengulangan kata asyik menekankan bahwa keasyikan dan kesenangan untuk meraih apapun yang dia inginkan sudah begitu menguasai Bento sehingga ia menjadi tidak lagi manusiawi.<br />
Dehumanisasi juga muncul di dalam lirik lagu Bongkar. Di sini penguasa diperkuda oleh jabatan yang berarti bahwa penguasa dikuasai oleh obsesi mereka akan jabatan. Obsesi pada jabatan ini membuat mereka kehilangan hati nurani (cinta) yang mengakibatkan mereka tidak dapat memerintah dengan adil dan bahkan menjadi kebal dengan kesedihan orang lain (kesedihan hanya tontonan)<br />
Kalau cinta sudah di buang<br />
Jangan harap keadilan akan datang<br />
Kesedihan hanya tontonan<br />
Bagi mereka yang diperkuda jabatan</p>
<p>Penguasa di dalam lagu ini ditampilkan serupa dengan Bento yang tidak pernah memikirkan penderitaan yang ditimbulkannya akibat ulahnya menjagal bisnis orang lain. Keduanya sama-sama mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki hati nurani dan rasa keadilan. Jika melihat bahwa lirik lagu ini mengetengahkan bahwa dehumanisasi terjadi pada kedua kelas yang tampaknya saling berseberangan dan berlawanan, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kedua kelas masyarakat ini memiliki sifat yang serupa. Kedua kelas tersebut dikuasai oleh obsesi mereka sehingga berfokus pada diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain.<br />
Di samping gagasan pertentangan kelas, gagasan lain yang muncul adalah kecemburuan sosial si miskin kepada si kaya (terutama dalam Oh ya). Meskipun demikian, kelas bawah hanya berani berandai-andai karena sadar akan adanya sekat-sekat yang memisahkan keduanya yang disebutnya sebagai takdir dan nasib. Kepasrahan pada nasib dan takdir memperlihatkan tidak adanya jalan ke luar dari kemiskinan.<br />
Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>Kritik sosial yang diangkat dalam keempat lirik lagu SWAMI I disampaikan melalui nada satiris dan ironis. Lirik lagu  Potret dan Oh Ya mengritik kesenjangan sosial antara dua kelompok masyarakat, yaitu antara si kaya dan si miskin. Dalam dua lirik tersebut, kritik disampaikan secara lunak. Kekayaan dan keberhasilan ternyata hanya milik segelintir orang sementara yang lainnya adalah orang-orang resah yang harus bersusah payah berjuang untuk hidup.<br />
Lirik Oh Ya yang diawali dengan deskripsi kondisi sosial, ditutup dengan larik tanah lahirku aku cinta kau dan Bumi darahku aku cinta engkau. Penyajian tersebut menjadikan kritik sosial tidak tajam. Di satu sisi ada unsur kepasrahan, di sisi lain, ada motivasi untuk tetap mencintai negeri ini bagaimana pun keadaannya.<br />
Berbeda dengan dua lirik lainnya, yaitu Bento dan Bongkar, kritik sosial yang muncul lebih tegas, meski tetap tidak subversif. Dalam kedua lirik lagu tersebut, kritik ditujukan pada kalangan atas yang memiliki kekuasaan yang cenderung menyalahgunakan kekayaan dan kekuasaannya untuk menindas dan memarjinalkan yang lain.<br />
Di balik sosok Bento yang tampan, berkelas dan berkuasa, ia ternyata memiliki sifat seperti “preman” yang “mengancam”, dan “menjagal” tanpa hati nurani. Ironi penguasa sebagai “pengkhotbah moral” dan “guru” yang dipertentangkan dengan aksi “menipu”, dan “mencuri,” menimbulkan kesan sindiran yang tajam pada kelompok penguasa. Pengulangan kata asyik menguatkan kesan bahwa kalangan ini menikmati penindasan yang mereka lakukan terhadap rakyat kecil.<br />
Lirik lagu Bongkar diawali dengan kritik yang cukup tajam karena adanya kesadaran dari kelas bawah untuk membongkar kekuasaan. Kesan sarkastis muncul pada kata-kata “setan yang berdiri mengangkang” ingin dirobohkan. Istilah tersebut ditujukan pada kekuasaan yang menindas. Kata “bongkar” dapat dimaknai sebagai sebuah kritik terhadap penguasa saat terjadi penggusuran-penggusuran yang semakin memarjinalkan kelompok miskin dan tidak berdaya. Kata “bongkar” menjadi “teriakan” penguasa yang tidak peduli pada nasib rakyat kecil, atau dapat pula dimaknai kekuatan kelas bawah yang bisa memiliki “kekuatan” atau “kekuasaan” melakukan perlawanan dan melakukan cara-cara “preman” atau “tidak humanis”, seperti yang dilakukan oleh para penguasa. Akan tetapi di akhir lirik, pemilihan kata “orang tua” sebagai analogi penguasa menyiratkan bahwa yang dilawan adalah orang tua sendiri sehingga perlawanan tidak mungkin dilakukan secara frontal.<br />
Vokalisasi yang bisa saja berubah tempat, antara posisi penindas (Bento) dan yang ditindas (Potret, Oh ya, dan Bongkar), mengurangi ketajaman kritik sehingga menjadi sebuah lirik yang lebih terkesan menghibur daripada menyudutkan pihak tertentu. Mungkin hal tersebut merupakan alasan album SWAMI I dapat diterima masyarakat dan juga pemerintah yang berkuasa pada masa itu.</p>
<p>V. Kesimpulan </p>
<p>Representasi kelas sosial dan pertentangannya diungkapkan melalui peng-ontrasan. Kelas bawah direpresentasikan sebagai rakyat kecil, yang kondisi kehidupannya sangat kontras berbeda dengan kalangan yang menikmati kue pem-bangunan. Dua kelas ini merupakan pencerminan kondisi sosial di era Orde Baru, di mana pertumbuhan ekonomi cukup baik, tetapi terdapat kesenjangan sosial yang lebar, antara kelompok yang sukses dan kelompok masyarakat yang terpuruk atau tertinggal dalam pembangunan.<br />
Kelas atas ditampilkan sebagai orang-orang yang menikmati kue pembangunan, punya banyak uang, punya harta dan rumah mewah, punya jabatan tinggi, berkuasa, bisa ber-buat semaunya, hidup enak dan nyaman. Mereka asyik dengan kenikmatan hidupnya sendiri, dan tidak perduli dengan hidup orang lain yang ditindas atau menjadi korban aksi manipulasinya.<br />
Pertentangan kedua kelas tersebut diungkapkan dengan mengkontraskan kondisi sosial, harapan dan kenyataan antara kedua kelas tersebut. Kesenjangan sosial antara kedua kelas itu tak terjembatani karena tidak ada cara yang dapat ditempuh oleh kelompok masyarakat miskin untuk dapat meningkatkan status sosial mereka.<br />
	Keempat lirik lagu SWAMI I memperlihatkan adanya pertentangan kelas dengan nuansa yang berbeda-beda. Pertentangan kelas yang tercermin di dalam keempat lagu ini berbeda dari pengertian Marxis karena tidak bersifat revolusioner model Eropa. Walaupun terdapat nada ketidakpuasan dan keinginan untuk memberontak, kelas bawah dalam lirik lagu tetap menganggap penguasa sebagai orang tua dan tetap mencintai negara dan bangsanya.<br />
Ajakan untuk membongkar tidak ditujukan secara langsung kepada penguasa, tetapi pada penindasan dan kesewenang-wenangan, ketidakpastian dan keserakahan. Tidak ada nama atau figur spesifik nyata yang disebut dalam keempat lirik lagu.<br />
Jadi ajakan untuk membongkar adalah membongkar sistem nilai yang dirasakan tidak adil, bukan membongkar atau merobohkan kekuasaan. Meskipun muara sistem nilai itu pada akhirnya berada pada penguasa dan pemilik kapital besar. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kehadiran Setiawan Djodi sebagai penyandang dana dalam grup Swami.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.</p>
<p>Boangmanalau, Singkop Boas. 2008. Marx, Dostoievsky, Nietzsche: Menggugat Teodisi dan Merekonstruksi Antropodisi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.</p>
<p>Budianta, Melani. 2000. “Discourse of Cultural Identity in Indonesia During the 1997-1998 Monetary Crisis,” Inter-Asia Cultural Studies, vol. 1 no. 1, hlm. 110-127.</p>
<p>Christomy, T., dan Untung Yuwono (ed.). 2004. Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI. </p>
<p>Honderich, Ted. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford/New York: Oxford University Press.</p>
<p>Kathryn Woodward. 1999. Identity and Difference. London: Sage Publication.</p>
<p>Storey, John. 2006. Cultural Theory and Popular Culture: an Introduction. Fourth Edition. Athens, Georgia: The University of Georgia Press.</p>
<p>Tabloid Bintang No 293/Th. VI, Minggu Kedua, Oktober 1996. </p>
<p>Winters, Jeffrey A. 1999. Dosa-dosa Politik Orde Baru, Jakarta: Penerbit Djambatan.</p>
<p>Hoed, Benny H. 2008. Semiotika dan Dinamika. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.</p>
<p>Nöth, Wienfried. 1995. Handbook of Semiotics. Indiana: Indiana University Press. Hlm.311-313.</p>
<p>Lampiran 1</p>
<p>Potret<br />
(Iwan Fals / Sawung Jabo / Naniel) –SWAMI</p>
<p>Orang orang resah<br />
Berlomba kejar nafkah<br />
Demi anak bini<br />
Demi sesuap nasi</p>
<p>Kuno kuno memang<br />
Memang memang kuno<br />
Namun kenyataan<br />
Kita butuh soal itu</p>
<p>Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?</p>
<p>Seperti binatang<br />
Bila lapar menerjang<br />
Seperti kereta<br />
Nafasnya terdengar</p>
<p>Lidahnya terjulur<br />
Syahwatnya siap lentur<br />
Soal harga diri<br />
Sudah tak berarti</p>
<p>Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?</p>
<p>Pergi kau!<br />
Jangan nasehati aku oh ya!<br />
Pergi kau!<br />
Aku mau uangmu oh ya!<br />
Pergi kau!<br />
Jangan menggurui aku oh ya!<br />
Pergi kau!<br />
Aku mau nasimu oh!</p>
<p>Anak anak kecil tengadahkan tangan<br />
Mainkan tamborin gapai masa depan<br />
Tanah lahirku aku cinta kau<br />
Bumi darahku aku cium engkau</p>
<p>Lampiran 2</p>
<p>Oh&#8230; Ya!<br />
(Iwan Fals &amp; Sawung Jabo) &#8211; SWAMI</p>
<p>Andaikata aku di mobil itu<br />
Tentu tidak di bus ini<br />
Seandainya aku rumah itu<br />
Tentu tidak di gubuk ini</p>
<p>A a a andaikata<br />
Se se se seandainya<br />
Oh ya!</p>
<p>Kalau saja aku jadi direktur<br />
Tentu tidak jadi penganggur<br />
Umpamanya aku dapat lotere<br />
Tentu saja aku tidak kere</p>
<p>Ka ka ka kalau saja<br />
U u u umpamanya<br />
Oh ya!</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>Aku bosan</p>
<p>A a a andaikata<br />
Se se se seandainya<br />
Ka ka ka kalau saja<br />
U u u umpamanya<br />
Oh ya!</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>La la la<br />
La la la<br />
La la la la la la la la la la la la la</p>
<p>La la la<br />
La la la<br />
La la la la la la la la la la la la la</p>
<p>Lampiran 3:</p>
<p>Bento<br />
(Iwan Fals / Naniel ) -SWAMI</p>
<p>Namaku Bento rumah real estate<br />
Mobilku banyak harta berlimpah<br />
Orang memanggilku bos eksekutive<br />
Tokoh papan atas atas s’galanya. Asyik . . . . . . . . .<br />
Wajahku ganteng banyak simpanan<br />
Sekali lirik oke sajalah<br />
Bisnisku menjagal jagal apa saja<br />
Yang penting aku menang aku senang<br />
Persetan orang susah karena aku<br />
Yang penting asyik. Sekali lagi asyik . . . . . . . . .<br />
Reff:<br />
Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku<br />
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti woh . . . jagonya . .<br />
Maling kelas teri bandit kelas coro, itu kan tong sampah<br />
Siapa yang mau berguru, datang padaku<br />
Sebut tiga kali namaku: Bento . . . .Bento . . . . Bento . . . . .<br />
Asyik . . . . . . . ! ! ! ! ! ! Asyik . . . . . .</p>
<p>Lampiran 4:</p>
<p>Bongkar<br />
(Iwan Fals / Sawung Jabo) -SWAMI</p>
<p>Kalau cinta sudah di buang<br />
Jangan harap keadilan akan datang<br />
Kesedihan hanya tontonan<br />
Bagi mereka yang diperkuda jabatan</p>
<p>Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar</p>
<p>Sabar sabar sabar dan tunggu<br />
Itu jawaban yang kami terima<br />
Ternyata kita harus ke jalan<br />
Robohkan setan yang berdiri mengangkang</p>
<p>Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar</p>
<p>Penindasan serta kesewenang wenangan<br />
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan<br />
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan<br />
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan</p>
<p>Dijalanan kami sandarkan cita cita<br />
Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya<br />
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia<br />
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=80&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2009/02/02/swami-dan-kritik-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Industri Musik Indonesia dan Sumber Daya Budaya</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2009/01/06/industri-musik-indonesia-dan-sumber-daya-budaya/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2009/01/06/industri-musik-indonesia-dan-sumber-daya-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 23:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/2009/01/06/industri-musik-indonesia-dan-sumber-daya-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[Industri Musik Indonesia dan Sumber Daya Budaya Oleh: Lucky Muhammad Mulyadi Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, industri musik Indonesia sebenarnya termasuk yang beruntung. Keberuntungan Indonesia terletak pada akar budaya yang telah ditanamkan sejak orde lama. Peran Soekarno yang dicemooh sebagai pembelengu kebebasan dalam ekspresi seni pasca keruntuhannya, saat ini justru harus dikaji sebagai orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=77&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Industri Musik Indonesia dan Sumber Daya Budaya<br />
Oleh: Lucky Muhammad Mulyadi</p>
<p>Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, industri musik Indonesia sebenarnya termasuk yang beruntung. Keberuntungan Indonesia terletak pada akar budaya yang telah ditanamkan sejak orde lama.<br />
Peran Soekarno yang dicemooh sebagai pembelengu kebebasan dalam ekspresi seni pasca keruntuhannya, saat ini justru harus dikaji sebagai orang yang berjasa menggali dan mempertahankan kebudayaan Indonesia dari gempuran budaya asing. Tanpa kebijakannya tersebut, rasanya sulit untuk mengatakan bahwa industri musik Indonesia akan ada pecinta setianya. Meskipun ada fakto-faktor lainnya seperti musisi-musisi Indonesia yang memanfaatkan momentum kebijakan tersebut dengan menciptakan berbagai musik dan lagu yang selaras dengan kebijakan Soekarno.<span id="more-77"></span><br />
Untuk menciptakan kecintaan terhadap musik Indonesia, Soekarno juga mendorong kreativitas musisi dengan mendirikan Lokananta. Suatu perusahaan rekaman negara yang mendokumentasikan dan menyebarluaskan musik-musik Indonesia ke berbagai daerah. Kebijakan Soekarno yang antibarat telah mengakibatkan dominannya lagu-lagu berbahasa Indonesia dan lagu-lagu daerah di tanah air.<br />
Era Soeharto, disengaja atau tidak, juga telah melanjutkan ke-Indonesia-an melalui musik terus berlanjut. Pada era pemerintahan Soeharto inilah industri musik Indonesia semakin berkembang. Soeharto tidak mengeluarkan kebijakan anti barat seperti yang dilakukan Soekarno, tetapi melalui kebijakannya yang menetapkan TVRI sebagai satu-satunya stasiun tv di Indonesia, telah menjaga keberuntungan industri musik Indonesia. Keberuntungan tersebut disebabkan TVRI hanya menyiarkan musik-musik Indonesia. TVRI merupakan media yang paling efektif untuk mengiklankan, secara tersembunyi, musik Indonesia sampai ke pelosok daerah.<br />
Dibandingkan dengan negara tetangga, misalnya Malaysia dan Filipina pelaku industri musik di Indonesia seharusnya menyadari adanya kekuatan sumber daya budaya bangsa Indonesia dalam hal musik. Malaysia sudah digempur oleh label asing sejak tahun 1960-an, dalam ukuran industri karya-karya lokal Malaysia dapat dikatakan tidak berkembang terlalu baik. Pasar lokal mereka dikuasai oleh label asing. Pasar industri musik Malaysia sendiri sejak tahun 1960-an sudah menjadi pasar bagi industri musik Indonesia. Saat ini para pelaku industri musik di Malaysia sedang menunggu diberlakukannya ketentuan untuk membatasi lagu-lagu asing, termasuk. lagu Indonesia. Industri musik Malaysia menganggap perlu melindungi dirinya dari serbuan asing. Meskipun dilihat dari kacamata “semangat jaman” kebijakan pelaku industri Malaysia itu sudah tidak cocok lagi.<br />
Filipina meskipun terkenal dengan kemampuan musisi dan penyanyinya yang banyak main di berbagai club dan hotel mancanegara ternyata tidak berdaya dalam industri musiknya sendiri. Sampai akhirnya beberapa musisi Filipina meminta kebijakan Presiden Marcos untuk memutar satu lagu Filipina dalam satu jam siaran di radio-radio swasta di Filipina. Hal itu disebabkan stasiun-stasiun radio di Filipina dalam jam siarnya hampir secara penuh menyiarkan lagu berbahasa Inggris dari penyanyi asing. Pada saat presiden Aquino, kebijakan itu berubah menjadi tiga lagu untuk satu jam siaran. Karena akar budaya yang tidak kuat dalam musik pop nya generasi muda Filipina lebih menyenangi musik barat daripada musiknya sendiri.<br />
Dengan kenyataan seperti itu, harus dipertimbangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh generasi muda Malaysia dan Filipina untuk belanja musik pop asing. Dalam kasus di Malaysia, betapa frustasinya pelaku industri musik di Malaysia sehingga melemahkan semangat daya cipta mereka dan meminta kekuasaan pemerintah bertindak melindungi pasar.<br />
Akar musik nasional yang telah ditanamkan oleh Soekarno hampir sama dengan yang terjadi di Korea Selatan. Pada tahun 1960-1970-an pemerintah Korea Selatan juga melakukan kebijakan yang sama dengan kebijakan Soekarno. Bedanya, di Indonesia pelarangan dilakukan saat kebudayaan Barat belum masuk secara intens, sementara di Korea Selatan pelarangan dilakukan ketika musik asing sudah intens sejak tahun 1950an. Pemerintah Korea Selatan pada tahun 1960-1970an menganggap bahwa generasi mudanya telah terpengaruh oleh budaya yang tidak sehat, seperti penggunaan rok mini dan gaya rambut yang kebaratan-baratan, dan terutama nyanyian yang tidak sehat. Untuk itu pemerintah melarang musik asing dan dikembangkanlah musik yang harus mencerminkan identitas nasional.<br />
Langkah yang ditempuh Orde Lama dan Pemerintah Korea Selatan dalam melindungi kebudayaannya telah menghasilkan sesuatu yang sama pula yaitu Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memiliki akar budaya yang kuat. Akan tetapi, kita tidak seperti Korea Selatan yang telah mendunia melalui K-pop nya. Lewat akarnya yang kuat, ditunjang oleh manajemen yang baik, dan dukungan pemerintah, Korea Selatan telah berhasil menapaki industri musik dunia. Ini tentu bukan keberuntungan, melainkan kerja keras dan kecerdasan membaca pasar.<br />
Seperti halnya Korea Selatan, industri musik Indonesia mempunyai modal sumber daya budaya yaitu bangsa Indonesia sebagai konsumen yang setia pada musiknya dan musisi yang kreatif. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan menunjukkan tingkat keberartian apabila tidak ditunjang manajemen yang baik dan dukungan pemerintah. Masalah-masalah klasik dalam industri musik harus segera dibenahi seperti pembajakan misalnya, dalam penelitian Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Universitas Indonesia (PPKB-UI) pada tahun 2005 telah memperlihatkan bahwa 46,50% konsumen musik di berbagai daerah sampel yang diteliti menyatakan bahwa mereka membeli musik bajakan. Angka ini kemungkinan terus bertambah, dan harus segera diambil tindakan “tanpa ampun” apabila pemerintah serius ingin mengembangkan industri kreatif.<br />
Apabila dikaitkan dengan isu “industri musik Indonesia kiamat” yang salah satunya ditandai dengan penurunan angka penjualan album rekaman nasional, sebetulnya hanya menunjukkan adanya pergeseran dan perubahan saja. Pergeseran terjadi dari nasional menuju lokal. Munculnya indie label di berbagai daerah di Indonesia yang mempunyai pasar tidak hanya di dalam komunitas lokalnya melainkan sampai ke luar negeri. Indie label disini tidak hanya diartikan sebagai kelompok musik tertentu, melainkan segala kelompok musik, termasuk musik pop berbahasa daerah dan musik tradisional. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PPKB-UI di beberapa daerah di Indonesia yang sebelumya tidak mengenal industri rekaman, sejak sekitar lima tahun yang lalu mulai memperlihatkan hal yang berbeda. Teknologi yang semakin murah dan familiar telah menyebabkan minat masyarakat untuk membuat rekaman sendiri.<br />
Kemunculan tv swasta lokal di berbagai daerah juga telah menyuburkan industri musik di daerah. Tv-tv swasta lokal di Bandung tentunya selalu memerlukan lagu-lagu berbahasa Sunda, penyanyi dan band-band lokal. Tv swasta lokal di Bali menampilkan artis lokalnya seperti Widi Widiane atau Lolot, demikian juga halnya J-TV di Jawa Timur Sony Joss menjadi bintangnya di sana. Munculnya lokalitas mungkin menjadi salah satu sebab mengapa angka penjualan album nasional menurun. Tetapi, di sisi lan telah menunjukkan adanya aktivitas industri rekaman di daerah yang angka penjualan sering tidak tercatat.<br />
Sementara perubahan yang terjadi adalah dalam bentuk wujud musik, masa kaset dan cd hampir berlalu. Saat ini, wujud perdagangan musik yang berkembang di Indonesia adalah melalui internet dan Ring Back Tone (RBT). Dengan bergesernya konsumen kepada internet dan RBT telah memotong beberapa jalur distribusi industri, seperti distributor dan toko-toko kaset. Dan jelas menurunkan angka penjualan album rekaman dalam bentuk konvensional. Selain itu, saat ini produser rekaman harus berbagi keuntungan dengan provider telepon seluler. Akan tetapi, apakah angka penjualan secara keseluruhan dengan demikian dapat dikatakan menurun? Juga penghasilan artis apakah menurun? Gejala penurunan angka penjualan album rekaman memang menurun secara global, tetapi angka penjualan digital secara global juga mulai menunjukkan trend yang meningkat. HP yang pernah dituduh sebagai salah satu penyebab turunnya penjualan album, karena generasi muda lebih banyak mengalokasikan dananya untuk pulsa daripada membeli lagu, ternyata telah menjadi penyelamat. Generasi muda adalah konsumen utama RBT. Selain itu, RBT bebas dari pembajakan.<br />
Dengan demikian pergeseran dan perubahan dalam industri musik inilah yang patut dicermati pelaku industri rekaman. Kiamat bagi musik industri musik Indonesia dapat terjadi apabila masyarakat Indonesia sudah tidak mau mendengarkan dan tidak mempunyai kreativitas dalam bermain musiknya. Hal itu dimungkinkan dengan serbuan musik asing, bukan hanya Barat, yang semakin gencar ke Indonesia.<br />
Kegairahan anak-anak muda dalam skala nasional maupun daerah dalam bermusik harus disikapi sebagai peluang dalam industri musik. Penggalian dan pemasaran sumber daya budaya dalam industri musik harus dilakukan terus menerus. Bahkan harus dipikirkan secara serius untuk mengekspor musik Indonesia. Bukan hanya bertahan dari serbuan-serbuan musik asing. Keberhasilan mengekspor musik ke luar negeri akan membangkitkan kebanggaan. Umpan baliknya masyarakat kita akan semakin bangga terhadap musiknya. Korea bisa, kenapa kita tidak bisa?</p>
<p>Lucky Muhammad Mulyadi, Peneliti Industri Budaya, dosen Sejarah Unpad.</p>
<p>Tulisan dimuat di Seputar Indonesia tanggal 10 November 2008</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=77&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2009/01/06/industri-musik-indonesia-dan-sumber-daya-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merry Andani</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/09/merry-andani/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/09/merry-andani/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 08:15:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Penyanyi disco dangdut yang namanya meroket bersama Anis Marcela, Nini Karlina dan Jefry Bule. Album disco dangdut Dinding Pemisah dari Merry Andany pada awal tahun 1990-an 1terjual sebanyak 500.000. Hal itu menandakan bahwa corak disco dangdut saat itu sangat fenomenal bagi masyarakat Indonesia. Selain sukses di album rekaman, artis-artis yang membawakan disco dangdut juga sukses [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=72&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyanyi disco dangdut yang namanya meroket bersama Anis Marcela, Nini Karlina dan Jefry Bule. Album disco dangdut <em>Dinding Pemisah </em>dari Merry Andany pada awal tahun 1990-an 1terjual sebanyak 500.000. Hal itu menandakan bahwa corak disco dangdut saat itu sangat fenomenal bagi masyarakat Indonesia. Selain sukses di album rekaman, artis-artis yang membawakan disco dangdut juga sukses dalam panggung-panggung pertunjukkan.<br />
Sebelum menekuni dangdut penyanyi asal kawasan Ciateul bandung ini juga pernah terjun dalam musik pop dengan nama Merry Meriam.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=72&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/09/merry-andani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jelly Tobing</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/09/jelly-tobing/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/09/jelly-tobing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 08:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Jelly Tobing, sebagai drummer jelly Tobing telah malang melintang dalam berbagai panggung pertunjukan musik di Indonesia. Awal karir dimulai dengan menjadi drummer The Minstreel di Medan. Kemudian pindah ke Jakarta dan sempat bergabung bersama CC Blues. Peranan Deddy Dores mungkin dapat dikatakan telah mendorongnya untuk masuk dalam lingkaran musik nasional. Waktu itu, tahun 1976, Deddy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=67&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jelly Tobing, sebagai drummer jelly Tobing telah malang melintang dalam berbagai panggung pertunjukan musik di Indonesia. Awal karir dimulai dengan menjadi drummer The Minstreel di Medan. Kemudian pindah ke Jakarta dan sempat bergabung bersama CC Blues.<br />
Peranan Deddy Dores mungkin dapat dikatakan telah mendorongnya untuk masuk dalam lingkaran musik nasional. Waktu itu, tahun 1976, Deddy Dores yang tengah bergabung bersama Giant Step menyarankan agar teman-temannya di Giant Step menggunakan tenaga Jelly sebagai drummer, tetapi beberapa rekannya menolak. Akibat keputusan teman-temannya Deddy melepaskan diri dari Giant Step.<span id="more-67"></span><br />
Kemudian Deddy Dores meyakinkan manajer Giant Step, promotor dan wartawan musik Aktuil yang bernama Denny Sabri untuk memanfaatkan Jelly Tobing. Maka kemudian lahirlah grup Superkid, yang terdiri dari Deddy Dores (keyboards dan guitar), Deddy Stanzah (bass dan vokal) dan Jelly Tobing (drum).<br />
Bersama grup inilah Jelly Tobing mencuat namanya, dia sering dipromosikan sebagai super-drummer Indonesia oleh majalah Aktuil. Setelah Superkid bubar, Jelly bermain untuk Giant Step yang pernah menolaknya.<br />
Setelah beberapa lama tidak terdengar seiring dengan lunturnya popularitas Giant Step, nama Jelly Tobing juga hampir tenggelam. Tetapi nama itu tidak lama muncul kembali ke permukaan pentas musik nasional ketika Jelly bergabung dengan Bharata band pada tahun 1984. Bersama grup band yang terbilang sukses membawakan lagu-lagu The Beatles, nama Jelly Tobing tetap eksis di dunia musik Indonesia. Di grup Bharata ini Jelly masuk tahun 1984 sampai tahun 1990, kemudian posisinya digantikan oleh Cendy seorang drummer dari Bandung. Akan tetapi dengan alasan yang kurang jelas, Jelly kembali bergabung dengan Bharata pada tahun 1994 sampai tahun 1999.<br />
Selama karirnya Jelly pernah mengalami dua kali kecelakaan di panggung. Pertama tahun Kedua, tahun 1981 di panggung show di stadion Gelora 10 Nopember Surabaya ketika Jelly terkena Strom dan tangan kanannya menderita luka cukup parah. Namun setahun kemudian Jelly sudah muncul lagi dalam berbagai pementasan. Hal itu dikarenakan sudah membulatnya tekad untuk tetap bermain drum atau karena falsafah hidupnya bahwa musik adalah hidup saya dan tidak mungkin mencari nafkah dalam bidang lain.<br />
Selain sebagai drummer Jelly juga sering mengorbitkan atau mencari artis untuk diorbitkan. Nama yang sukses diantar oleh Jelly Tobing adalah Nicky Astria dan Betharia Sonata.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=67&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/09/jelly-tobing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GPL UNPAD</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/08/gpl-unpad/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/08/gpl-unpad/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 03:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[GPL Unpad, berdiri pada sekitar bulan September tahun 1971. Banyak musisi yang sudah punya nama dalam musik nasional masuk Unpad, dalam kampus itulah mereka bergabung membuat suatu kelompok musik. Misalnya Rudi (drummer Bimbo), Benny Subardja dan Albert Warnerin (Giant Step) serta Indra Rivai. GPL dapat dikatakan pelopor pada era tahun 1970-an ketika para remaja menyukai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=64&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>GPL Unpad, berdiri pada sekitar bulan September tahun 1971. Banyak musisi yang sudah punya nama dalam musik nasional masuk Unpad, dalam kampus itulah mereka bergabung membuat suatu kelompok musik. Misalnya Rudi (drummer Bimbo), Benny Subardja dan Albert Warnerin (Giant Step) serta Indra Rivai.<br />
GPL dapat dikatakan pelopor pada era tahun 1970-an ketika para remaja menyukai lagu-lagu rakyat. Kegiatan GPL ini juga menjadi pemicu apa yang disebut vocal grup, yang pada kemudian menjamur di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia saat itu.<br />
Anggota GPL yang tampil dalam suatu panggung bisa terdiri dari sekitar 40 sampai 50 orang. Selain muncul dengan kekuatan suara, kekuatan mereka lainnya adalah penonjolan flute dan harmonika dalam musiknya.<br />
Lagu-lagu yang dinyanyikan GPL, meliputi berbagai lagu rakyat dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya Henematov dari Afghanistan dan Haavanashirra lagu rakyat milik orang Yahudi.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=64&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/09/08/gpl-unpad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EKSPOR MUSIK</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/ekspor-musik/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/ekspor-musik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 07:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Mengekspor Musik Indonesia Oleh     :   R Muhammad Mulyadi.               Tidak pernah dinyatakan oleh pemerintah bahwa Indonesia telah mengekspor musik ke berbagai negara, atau akan mengadakan program khusus untuk meningkatkan angka ekspor musik. Seperti menggenjot produk ekspor nonmigas lainnya. Mungkin ekspor alat musik sudah kita dengar. Tetapi mengenai ekspor musik rasanya tidak pernah kita dengar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=58&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#ff0000;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mengekspor Musik Indonesia</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh<span>     </span>:<span>   </span>R Muhammad Mulyadi. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tidak pernah dinyatakan oleh pemerintah bahwa Indonesia <span style="text-decoration:underline;">telah</span> mengekspor musik ke berbagai negara, atau <span style="text-decoration:underline;">akan</span> mengadakan program khusus untuk meningkatkan angka ekspor musik. Seperti menggenjot produk ekspor nonmigas lainnya. Mungkin ekspor alat musik sudah kita dengar. Tetapi mengenai ekspor musik rasanya tidak pernah kita dengar. Lalu apa pengertian mengekspor musik? Pengertian ekspor sama dengan pengertian ekspor pada umumnya, yaitu menjual sesuatu kepada negara lain. Sedangkan pengertian mengekspor musik adalah menjual musik ke negara lain. Lebih lanjut wujud musik yang diekspor dapat berupa produk industri musik seperti kaset, cd, atau vcd. Bisa juga hanya dalam wujud lagu dan musiknya saja yang dijual. Artinya, hak cipta nya saja yang dijual. Baik untuk kepentingan iklan, film, atau bentuk aplikasi lainnya seperti pada komputer dan ringtone hp. Di samping itu pengertian ekspor musik juga mencakup menampilkan para musisi dan penyanyi di panggung-panggung pertunjukan ke berbagai negara.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kenapa harus mengekspor?</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span><span id="more-58"></span>Dilihat dari sudut sejarah, musik di Indonesia pada era Sukarno lebih mewujud sebagai alat politik. Pada era Sukarno inilah akar kecintaan akan musik nasional diwujudkan. Dengan akar nasional yang kuat tersebut, maka di era Suharto yang mengutamakan pembangunan ekonomi musik Indonesia sebagai industri menampakkan wujudnya. Akan tetapi, dalam rentang waktu yang panjang tersebut, ternyata industri musik Indonesia hanya ditujukan untuk pasar dalam negeri saja. Pemikiran untuk mengekspor<span>  </span>musik sebagai suatu program pemerintah tidak pernah dicetuskan. Kalaupun ada, itu hanya merupakan cita-cita individu penyanyi dan musisi saja. Bukan suatu cita-cita kolektif masyarakat Indonesia yang dipandu oleh pemerintah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sejak beberapa tahun yang lalu, ketika royalti atas hak cipta mulai dijalankan di Indonesia melalui YKCI,<span>            </span>kondisi pasar industri musik dalam negeri menunjukkan posisi neraca pasar yang tidak seimbang. Indonesia lebih banyak membeli daripada menjual. Artinya peminat musik di Indonesia lebih banyak membeli lagu produk Asing (terutama Barat) daripada produk dalam negeri. Jangan dibandingkan dengan produk bajakan. YKCI sebagai lembaga pengumpul dan pendistribusi royalti musik di Indonesia lebih banyak membayar royalti untuk lagu-lagu asing daripada untuk lagu Indonesia. Demikian pula dengan musik panggung, lebih banyak mendatangkan musisi asing daripada membawa musisi Indonesia ke luar negeri. Dalam hal ini industri musik Indonesia mengalami <em>capital lose</em>, bukan <em>capital gain</em>. Posisi ini tidak menguntungkan secara ekonomi. Mengapa kita harus mengeluarkan atau bahkan “menyumbang” musik negara-negara maju?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pemerintah harus mempunyai inisiatif untuk mendorong terciptanya ekspor industri musik, selain menciptakan industri musik di dalam negeri yang kondusif. Peran serta pemerintah sebagai pendorong dan pelindung industri musik telah dicontohkan oleh beberapa negara. Misalnya, dua Presiden Amerika yang pernah berkunjung ke Indonesia ternyata mengagendakan musik dalam kunjungannya. Pertama kunjungan Ronald Reagan pada tahun 1984. Dalam kunjungannya tersebut dibicarakan masalah hak cipta dengan presiden Suharto, agar Indonesia bisa melindungi hak cipta. Salah satunya adalah melindungi hak cipta dalam industri musik. Hal itu mencuat ketika salah satu perusahaan rekaman di Indonesia telah membajak kaset Bob Geldof<span>  </span>yang diproduksi dalam rangka pengumpulan dana bagi kelaparan yang terjadi di Ethopia. Kedua tahun 1994 ketika Bill Clinton menginginkan agar Indonesia membuka pasar musiknya bagi invesitasi asing. Beberapa lama setelah kunjungan Bill Clinton berdirilah <em>recording company</em> asing yang digolongkan sebagai <em>the big five</em> di Indonesia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Pemerintah Amerika merasa perlu secara khusus melindungi industri budaya nya. Karena dari industri budaya, yang antara lain terdiri dari industri musik, film, televisi, kaset, cd, buku, dan software, telah menyumbangkan US$1,38 triliun atau 11,12% dari GDP Amerika Serikat di tahun 2005. Diperkirakan<span>  </span>sebanyak 11,3 juta masyarakat Amerika bekerja dalam bidang industri budaya termasuk musik.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Contoh lainnya dapat dilihat dari pemerintah Malaysia, selama ini mereka ternyata bukan hanya “mengancam” wilayah-wilayah perbatasan saja. Tetapi juga menebar ancaman terhadap pasar industri budaya Indonesia. Semakin derasnya dominasi musisi Indonesia di Malaysia adalah wacana-wacana yang sering dibahas oleh media cetak di Malaysia. Wacana tersebut sering berujung pada dua persoalan. Pertama, bagaimana mereka bisa menghentikan dominasi tersebut? Kedua, bagaimana industri musik mereka dapat berekspansi ke pasar internasional, terutama ke Indonesia. Indonesia menjadi target pasar industri musik yang paling realistis bagi Malaysia. Selain jumlah penduduknya juga alasan rumpun budaya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hal itu semakin jelas ketika Wakil Perdana Menteri Malaysia, Nazib Razak, berkunjung ke Jakarta November tahun lalu. Dalam salah satu pernyataannya Nazib meminta Indonesia untuk membuka pasar bagi industri budaya (musik dan film) Malaysia. Meskipun tidak secara jelas apa yang dimaksud dengan membuka pasar industri budaya tersebut. Karena selama ini Indonesia “sangat terbuka” untuk produk-produk industri budaya dari negara lain. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Apabila pemerintah negara lain secara ekonomi sudah menyadari arti penting musik sebagai industri yang harus didukung, dilindungi bahkan dapat diekspor, maka kenapa pemerintah Indonesia belum juga menyadarinya? Padahal dari sudut ekonomi, pada tahun 1994 industri musik pernah tercatat sebagai pembayar pajak terbesar bagi negara. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam bingkai budaya perlunya mengekspor musik sebenarnya berkaitan dengan upaya mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan nasional. Dalam kebijakan kebudayaan di masa orba, kita lebih disibukan untuk menyaring kebudayaan asing. Sehingga kita lupa untuk merancang suatu ekspansi budaya. Atau perluasan pengaruh kebudayaan Indonesia ke negara-negara lain. Ekspansi budaya nampaknya dianggap bukan suatu kepentingan yang mendesak. Padahal, kalau meminjam idiom sepak bola, pertahanan yang terbaik adalah dengan menyerang. Terbukti dengan datangnya era globalisasi ketahanan budaya Indonesia kewalahan menghadapi serangan asing. Sebagai dampaknya Indonesia semakin terbuka sebagai pasar industri musik bagi negara lain. Tidak hanya musik Barat, tetapi juga musik dari Jepang, Cina, dan Korea. Masuknya musik-musik tersebut ke Indonesia seiring dengan perkembangan budaya populer mereka seperti J-Pop, K-Pop, dan C-Pop. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Masuknya produk budaya-budaya asing sering dipandang sebagai gejala yang lumrah dalam perdagangan global. Akan tetapi, sebenarnya hal ini akan menyebabkan ongkos budaya yang terlalu mahal. Karena akan menjadikan bangsa Indonesia miskin daya cipta. Generasi muda akan disibukan oleh peniruan-peniruan budaya asing yang berkembang di Indonesia. Contohnya sudah terjadi dalam industri sinetron di Indonesia. Pada akhirnya miskinnya daya cipta juga berhubungan timbal balik dengan kurang percaya diri kita sebagai sebuah bangsa. Kondisinya akan berbeda apabila Indonesia dapat meluaskan pengaruh budayanya ke berbagai negara. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Peluang dan Tantangan </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sampai saat ini industri musik Indonesia memang telah dapat diterima di berbagai negara. Ikatan budaya, terutama bahasa, merupakan alasan utama diterimanya musik Indonesia di beberapa negara seperti<span>  </span>Malaysia, Brunei, dan Singapura.<span>  </span>Malaysia dan Singapura sejak tahun 1960-an telah menjadi cikal bakal pasar bagi industri musik Indonesia. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Selain musik berbahasa Indonesia, beberapa musik daerah pun sebenarnya telah memiliki pasar tersendiri di luar negeri. Pop Jawa mempunyai pasar di Suriname, Belanda, dan Malaysia (Johor). Hal itu telah dimulai sejak era Favorites Group dan Ervina pada tahun 1970-an, kemudian Didi Kempot dan Sony Joss pada tahun 2000-an. Pop Minang dan pop Dayak Iban juga mempunyai pasar tersendiri di Malaysia. Wilayah negeri sembilan adalah pasar utama pop Minang dengan bintangnya Tiar Ramon dari Sumatera Barat. Sementara pop Iban mempunyai wilayah pemasaran Serawak.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mengenai jenis musik lainnya yang telah mempunyai pasar di luar negeri adalah jenis musik tradisi. Musik jenis ini tidak terbatas dengan wilayah dan tidak ada hambatan bahasa.<span>  </span>Tetapi mempunyai peminat terbatas (peminat khusus). Jenis musik tradisi yang banyak diminati oleh peminat dari luar negeri adalah jenis musik tradisi dari Jawa, Bali, Batak, Minang, dan Sunda. Kekayaan musik tradisi Indonesia mempunyai peluang besar untuk <span> </span>menjadi produk industri budaya yang dapat diekspor. Meskipun dikatakan peminatnya terbatas, tetapi jumlah peminatnya mencakup dunia. Bukan wilayah Indonesia lagi, sehingga secara kuantitas angka penjualannya sering menyamai<span>  </span>angka-angka penjualan musisi-musisi pop di dalam negeri. Bahkan dari segi pembayaran royalti musisi musik tradisi dapat menerima jumlah yang lebih besar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tantangan terbesar industri musik Indonesia saat ini adalah meluaskan pasar musik ke berbagai manca negara. Suatu hal yang sering luput dari kesuksesan Indonesia menciptakan pasar di Malaysia adalah adanya fakta sejarah bahwa Indonesia sebenarnya menciptakan kondisi tersebut. Terlepas diisengaja atau tidak disengaja. Penciptaan pasar tersebut adalah ketika awal tahun 1960-an RRI meminjamkan 50% lebih koleksi lagu-lagunya ke Radio dan Televisien Malaysia (RTM). Dengan sering diputarnya lagu-lagu Indonesia di Malaysia maka terbiasa pula bagi masyarakat Malaysia untuk mendengarkan musik Indonesia. Hal itu menjadi <em>music habit</em> bagi masyarakat Malaysia. Fakta inilah yang sebenarnya menjadi fondasi dan dapat menjelaskan bagaimana musik Indonesia diterima oleh masyarakat Malaysia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam kondisi sekarang perlu dipikirkan kembali untuk menciptakan dan mengembangkan pasar Industri musik. Belajar dari kesuksesan di Malaysia, nampaknya <em>music habit</em> perlu dipertimbangkan sebagai jalan masuk industri musik ke suatu negara. Peluang tersebut nampaknya dapat dilakukan oleh masyarakat Indonesia <span> </span>yang mempunyai akses ke luar negeri. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Siapa yang dapat diharapkan menjadi <em>agent </em><span> </span>untuk berkembangnya musik Indonesia ke luar negeri melalui <em>music habit</em> tersebut? Pertama adalah para orang Indonesia yang belajar di luar negeri. Melalui akses internet dan pesta budaya dan persentuhan yang insten dengan masyarakat tempat dia belajar, mereka diharapkan dapat memperkenalkan lagu-lagu Indonesia. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kedua, adalah para TKI. Dalam kasus di Malaysia para TKI, khususnya yang bekerja di sektor rumah tangga, telah “menyumbangkan” beberapa kosa kata kepada bahasa Malaysia. Seperti pipis, bobo, dan mimi. Artinya, mereka telah menyebarluaskan salah satu budaya Indonesia ke luar. Demikian juga dengan musik, mereka yang bekerja di Malaysia, Singapura, dan Brunei sering mendengarkan lagu-lagu Indonesia melalui radio setempat. Hal ini berpengaruh bagi anak-anak yang mereka asuh. Sehingga dengan proses <em>music habit</em> sampai sekarang masih banyak masyarakat di ketiga negara tersebut menyukai lagu-lagu berbahasa Indonesia. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Akan tetapi, yang menjadi permasalahan adalah bahwa pengaruh budaya tidak berjalan lurus satu arah. Selalu terjadi saling mempengaruhi, oleh sebab itu selain membawa lagu-lagu Indonesia ke luar negeri tidak jarang justru para pelajar dari luar negeri maupun TKI yang membawa lagu-lagu asing ke Indonesia. Sehingga bermunculan lah di Indonesia radio-radio yang secara tetap menyiarkan lagu-lagu Malaysia. Terutama di pedesaaan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Meskipun demikian nampaknya masih ada peluang bagi para pelajar Indonesia dan TKI untuk menjadi <em>agent</em> perluasan pasar industri musik ke luar negeri. Perlu dilakukan penelitian mendalam di berbagai negara lainnya di tempat TKI bekerja,<span>  </span>apakah TKI dapat menjadi <em>agent</em> perluasan pengaruh musik Indonesia ke luar atau bahkan sebaliknya? Kemudian desain budaya yang seperti apa agar<span>  </span>para pelajar dan TKI<span>  </span>dapat menjadi <em>agent</em> perluasan pengaruh musik Indonesia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Selain pemerintah, produser rekaman dan promotor pertunjukkan di Indonesia pun harus tertantang untuk menciptakan pasar ke luar negeri. Jangan jago kandang. Apakah para produser rekaman dan promotor Indonesia mampu untuk menjual produk dan musisi Indonesia ke berbagai negara? Tidak hanya ke negara-negara tetangga terdekat. Sehingga akan muncul Ina-Pop (Indonesia Pop) dalam peta budaya populer di dunia. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">R. Muhammad Mulyadi.S.S.,M.Hum. <em>Pemerhati<span>  </span>Industri Musik. Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.</em></span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=58&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/ekspor-musik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KLIPING: Lagu Anak-anak</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/kliping-lagu-anak-anak/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/kliping-lagu-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 07:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 10 Juni 2007 Laporan Utama Koran Tempo (LAGU ANAK-ANAK) Bermutu, tapi Sulit Populer Pencipta lagu memadukan idealisme dan bisnis. Deddy Dhukun pantang kapok. Meski lagu anak-anak ciptaannya tempo hari tidak laku di pasar dan sebagian besar anak sedang tersihir oleh lagu-lagu produk band remaja dan dewasa, ia tetap menciptakan lagu untuk anak-anak. &#8220;Saya tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=50&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Minggu, 10 Juni 2007<br />
Laporan Utama Koran Tempo<br />
(LAGU ANAK-ANAK)<br />
Bermutu, tapi Sulit Populer</strong><br />
Pencipta lagu memadukan idealisme dan bisnis.<br />
Deddy Dhukun pantang kapok. Meski lagu anak-anak ciptaannya tempo hari tidak laku di pasar dan sebagian besar anak sedang tersihir oleh lagu-lagu produk band remaja dan dewasa, ia tetap menciptakan lagu untuk anak-anak.<span id="more-50"></span><br />
&#8220;Saya tidak akan putus asa dengan kondisi pasar saat ini. Akan terus berkarya,&#8221; kata Deddy, Rabu lalu. Sebagai bukti keseriusannya, kini Deddy sedang merilis album lagu bersama sejumlah anak berjudul Deddy dan Sobat.<br />
&#8220;Beberapa lagu berkolaborasi dengan anak yang tergabung dalam Little Angel,&#8221; ujar Deddy. Lagu-lagunya bertema universal dan religius. &#8220;Meskipun untuk semua umur, lirik dan baitnya mudah dicerna dan diingat.&#8221; Seperti sembahyang, sehat itu mahal, dan mengajak ke kebaikan.<br />
Agar bisa diterima pasar, lagu-lagu itu dikemas dengan sentuhan musik yang sedang jadi tren dan digemari anak-anak masa kini. &#8220;Perpaduan idealisme dan sisi komersialnya,&#8221; ujar Deddy.<br />
Namun, supaya lagu laris manis, ada syarat yang diajukan Deddy, yakni dukungan pemerintah. &#8220;Dalam bentuk kebijakan pembatasan acara yang kurang edukatif di media massa,&#8221; katanya. Dengan regulasi, seniman terangsang kembali menciptakan karya yang mencerdaskan bangsa.<br />
Persyaratan yang diajukan Deddy tersebut merupakan kata kunci setelah mengecap pengalaman pahit. Dua tahun lalu Deddy menciptakan lagu anak-anak dan berkolaborasi dengan bintang cilik Icha. Namun, album yang berjudul Lompat itu tidak sukses di pasar. &#8220;Jumlahnya kurang tahu, karena ditangani langsung oleh orang tua Icha sebagai produsernya,&#8221; kata Deddy.<br />
Mengapa tidak sukses? Di antara kelemahannya, Deddy menambahkan, promosi albumnya tidak gencar. &#8220;Promosinya biasa saja, tidak dengan biaya besar.&#8221; Menurut Deddy, lirik lagunya telah sesuai dengan selera anak-anak dan mudah diingat.<br />
Selain itu, lagu-lagu dewasa yang liriknya mudah diingat mulai menggeser lagu anak-anak. Populasi kelompok band remaja sedang memasuki puncak kejayaannya. &#8220;Di mana-mana ada pentas band, baik dalam acara off air maupun di siaran media massa,&#8221; kata Deddy. Akibatnya, media massa yang lebih mengutamakan keuntungan materi harus berpikir ulang mengganti tayangannya dengan acara lagu anak-anak. &#8220;Saat ini tayangan anak kurang menjual,&#8221; ujar Deddy.<br />
Hal ini berdampak keputusan produser yang menghindari lagu anak. Deddy pernah mengalami kesulitan mencari produser ketika menciptakan lagu bersama penyanyi Tasya. &#8220;Susah mencari produser,&#8221; kata Deddy.<br />
Lain lagi Agustinus Gusti Nugroho alias Nugie, yang mengklaim lagu anak-anak ciptaannya laris manis, seperti Kangen Dongeng dan Lonjak-lonjak, yang dinyanyikan Joshua Suherman. &#8220;Saat itu Joshua sangat berpengaruh terhadap anak-anak seusianya,&#8221; kata Nugie.<br />
Kiatnya, berkompromi dengan sponsor yang menjadi payung produksi. Alasannya, komersialisasi tidak bisa dihindarkan. Meski begitu, idealisme tetap dipertahankan. &#8220;Saya bisa menciptakan lagu karena (terinspirasi) lagu-lagu Ibu Sud, Ibu Kasur, dan Pak A.T. Mahmud,&#8221; kata Nugie.<br />
Nugie melihat saat ini tidak ada sosok penyanyi yang mewakili anak-anak seperti di masa Joshua, Trio Kwek-kwek, Adi Bing Slamet, dan Chicha Koeswoyo. &#8220;Yang muncul, anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa, atau suaranya sudah berteknik tinggi.&#8221;<br />
Mantan penyanyi cilik Joshua Suherman berharap, agar lagu anak-anak dapat bangkit kembali, pencipta lagu dan produser harus melakukan kolaborasi antara artis cilik yang baru dan mantan artis cilik. &#8220;Kalau dengan kolaborasi, masih memungkinkan dibandingkan dengan membuat album untuk anak,&#8221; kata Joshua.<br />
Keresahan sebagai dampak maraknya lagu dewasa yang diminati anak-anak pun mendera pencipta lagu Enteng Tanamal. Untuk menyiasatinya, sejumlah pencipta lagi anak-anak membuat lagu anak bersuasana rohani Kristen dan Islam. Sisi bisnis dan idealisme di ranah ini bisa didapat lantaran memiliki pasar tersendiri.<br />
&#8220;Biasanya album kaset atau CD dijual saat pelayanan,&#8221; kata Enteng. Pesannya pun sampai, yaitu menghargai alam, sesama, orang tua, dan sang Pencipta. Sedangkan untuk menciptakan lagu anak-anak bertema umum, dalam situasi pasar yang belum berpihak pada lagu anak-anak, dia merasakan kesulitan menciptakan lagu.<br />
Ahli sejarah industri musik Universitas Padjadjaran, Bandung, <strong>Muhammad Mulyadi</strong>, menilai di era anak-anak menggemari lagu remaja ini memang sulit menjadikan lagu anak-anak sebagai ajang bisnis. &#8220;Ini masanya lagu sebagai industri,&#8221; kata Mulyadi.<br />
Meski begitu, ada cara yang bisa ditempuh untuk mempertahankan eksistensi lagu anak-anak. Yakni, bila lagu anak-anak sedang mengalami booming, produser harus menciptakan penyanyi baru lainnya sebagai pelapis atau pengganti. &#8220;Kalau Joshua dan Meisi turun panggung dan ada pelapisnya, mungkin nasib lagu anak-anak tak separah sekarang,&#8221; ujar Mulyadi.<br />
Mulyadi sependapat dengan Deddy Dhukun soal pentingnya peran pemerintah dalam mendukung lagu anak-anak. Caranya, lagu anak yang baru dan bagus untuk pengembangan pendidikan anak mesti diajarkan di sekolah-sekolah. &#8220;Lagu-lagu A.T. Mahmud, Bu Kasur, dan Bu Sud bisa dinikmati anak-anak karena diajarkan di sekolah,&#8221; ujar Mulyadi.<br />
ALI ANWAR | EKO ARI WIBOWO | YOPHIANDI </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=50&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/kliping-lagu-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ita Purnamasari</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/ita-purnamasari/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/ita-purnamasari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 07:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Penyanyi pop yang sampai tahun 2001 sudah merilis album ke sebelas yang berjudul Cintamu . Album kesebelasnya bermula dari iri melihat suami, Dwiki Darmawan musisi anggota kelompok Jazz Krakatau, yang sering membuat lagu atau aransemen musik untuk penyanyi lainnya. Sedangkan istri sendiri tidak pernah dibuatkan lagu untuk albumnya. Untuk itulah Dwiki menyumbangkan lagu dan aransemen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=47&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyanyi pop yang sampai tahun 2001 sudah merilis album ke sebelas yang berjudul Cintamu . Album kesebelasnya bermula dari iri melihat suami, Dwiki Darmawan musisi anggota kelompok Jazz Krakatau, yang sering membuat lagu atau aransemen musik untuk penyanyi lainnya. Sedangkan istri sendiri tidak pernah dibuatkan lagu untuk albumnya.<br />
Untuk itulah Dwiki menyumbangkan lagu dan aransemen musiknya sesuai keinginan sang istri. Dalam album Cintamu penyanyi wanita kelahiran Surabaya, 15 Juli 1967 ini tampil dengan sentuhan orchestra yang digarap di Australia. <span id="more-47"></span><br />
Pada awal kemunculannya Ita Purnamasari adalah seorang lady rocker. Seangkatan dengan Nicky Astria, pada pertengahan tahun 1980-an. Kariernya dipandu oleh Arthur Kaunang (pentolan SAS grup), yang juga rocker asal Surabaya. Penampilan pertamanya dalam blnatika musik nasional adalah lewat lagu Penari Ular. Lagu lainnya yang populer lewat suara Ita adalah Cintaku Padamu (slow rock). Sejak pernikahannya dengan Dwiki, Ita mulai meninggalkan sepatu boots dan pernak-perniknya sebagai lady rocker. Padahal busana dan aksesoris tersebut sudah akrab dengan penampilan Ita di panggung. Akan tetapi hilangnya gaya khas lady rocker Ita Purnamasari tidak menyurutkannya dalam berkiprah dalam bidang musik. Meskipun Ita akhirnya beralih ke musik pop. Alasan peralihannya menurut Ita karena perjalanan waktu. Musik pop nampaknya lebih cocok untuk Ita Purnamasari.<br />
Mahligai rumah tangga Ita Purnamasari dan Dwiki Darmawan termasuk yang rumah tangga artis yang adem, sepi dari gossip.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=47&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/ita-purnamasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Irianti Erningpraja</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/irianti-erningpraja/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/irianti-erningpraja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 07:06:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Prestasinya lebih dahulu dalam dunia renang. Peraih medali perungu di Sea Games 1977 dan Asian games 1978. Medali dari olah raga yang ditekuninya mencapai enampuluh. Penyanyi anak dari Ehem Erningpraja ini juga merupakan pencipta lagu. Lagunya yang berjudul Salamku Untuknya yang dinyanyikan Vina Panduwinata menjadi juara satu Festival Lagu Pop Nasional 1983. Tahun 1984 lagunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=43&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prestasinya lebih dahulu dalam dunia renang. Peraih medali perungu di Sea Games 1977 dan Asian games 1978. Medali dari olah raga yang ditekuninya mencapai enampuluh. Penyanyi anak dari Ehem Erningpraja ini juga merupakan pencipta lagu. Lagunya yang berjudul <em>Salamku Untuknya</em> yang dinyanyikan Vina Panduwinata menjadi juara satu Festival Lagu Pop Nasional 1983. Tahun 1984 lagunya yang berjudul <em>Sapa Pagi Ceria</em> masuk semifinal pada festival yang sama. Pada tahun 1986 lagu ciptaannya masuk dalam 12 besar festival yang saat itu paling bergengsi. Erni juga banyak menciptakan lagu yang dinyanyikan orang lain seperti Vina Panduwinata, Atiek CB, Vonny Sumlang, dan Indra Lesmana. Saat-saat kesibukannya sebagai pencipta lagu Anti (nama panggilannya) juga tetap kuliah di Jurusan Statistika IPB.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=43&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/irianti-erningpraja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GEMBELS</title>
		<link>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/gembels/</link>
		<comments>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/gembels/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 03:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadi69</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadi69.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Gembels, adalah singkatan dari gemar belajar. Terbentuk bulan Oktober 1969. Anggota grup band asal Solo ini adalah Viktor Nasution (organ dan terompet), Rudy Ananto (leader guitar dan sax), Abu Bakar (bass), Minto dan Yoyok (drum), Anas Zaman (piano, organ dan fluit), Ardi Karlosa (gitar dan biola) dan Micky Saparvi (organ) pada saat berdiri semuanya berstatus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=40&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gembels, adalah singkatan dari gemar belajar. Terbentuk bulan Oktober 1969. Anggota grup band asal Solo ini adalah Viktor Nasution (organ dan terompet), Rudy Ananto (leader guitar dan sax), Abu Bakar (bass), Minto dan Yoyok (drum), Anas Zaman (piano, organ dan fluit), Ardi Karlosa (gitar dan biola) dan Micky Saparvi (organ) pada saat berdiri semuanya berstatus mahasiswa. Gembels pernah show di Singapura. Selama kariernya grup band ini menghasilkan album <em>Pahlawan</em> dan <em>Tragedi Kaki Lima</em>.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadi69.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadi69.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadi69.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadi69.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadi69.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadi69.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadi69.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadi69.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadi69.wordpress.com&amp;blog=2878352&amp;post=40&amp;subd=luckymulyadi69&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadi69.wordpress.com/2008/08/14/gembels/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99fd496274ddea032165321d06f1a3ca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadi69</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
